Jonathan David Bertahan di Juventus: Hambatan Baru Perburuan Striker Baru
Baca dalam 60 detik
- Striker Kanada Jonathan David menolak hengkang dari Juventus meski musim debutnya di Serie A mengecewakan dengan hanya enam gol liga.
- Keputusan David bertahan mempersulit rencana Juventus mendatangkan striker baru, mengingat gajinya yang tinggi dan sulitnya menjual Lois Openda.
- Tanpa tiket Liga Champions, Juventus diperkirakan kehilangan €50-60 juta dari anggaran, membuat belanja pemain baru semakin terbatas.

Striker asal Kanada, Jonathan David, memilih bertahan di Juventus meskipun musim perdananya di Serie A berjalan jauh dari harapan. Sikap ini justru menjadi batu sandungan bagi rencana klub asal Turin tersebut untuk mendatangkan penyerang tengah baru pada bursa transfer musim panas ini.
David bergabung dengan Juventus pada musim panas 2025 dengan status bebas transfer, menandatangani kontrak lima tahun hingga 2030. Gajinya dilaporkan mencapai €6 juta per musim, ditambah bonus hingga €2 juta. Namun, produktivitasnya di Italia tidak sebanding dengan reputasinya saat membela Lille di Ligue 1, di mana ia rata-rata mencetak lebih dari 17 gol per musim. Di Serie A, ia hanya mampu membukukan enam gol dari 35 penampilan—untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya ia gagal mencapai dua digit gol dalam semusim.
Kegagalan Juventus lolos ke Liga Champions musim depan membuat situasi semakin pelik. Kehilangan pendapatan dari kompetisi elite Eropa diperkirakan memangkas anggaran klub sebesar €50-60 juta. Ditambah kontrak Dusan Vlahovic yang akan habis pada akhir Juni, Juventus sangat membutuhkan striker baru untuk memperkuat lini depan asuhan Luciano Spalletti.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, David tidak ingin menyerah setelah satu musim yang mengecewakan. Ia bertekad membuktikan kemampuannya di Allianz Stadium. Namun, keputusan ini justru mempersulit langkah Juventus. Klub masih memiliki Lois Openda yang sulit dijual, sementara gaji David yang tinggi menjadi beban tambahan. Menjual David sebenarnya bisa menghasilkan capital gain karena ia datang gratis, tetapi sang pemain menolak hengkang.
Dilema ini mengingatkan pada situasi klub-klub besar Eropa yang harus menyeimbangkan ambisi dengan realitas finansial. Bagi Juventus, mempertahankan David berarti harus rela mengorbankan kesempatan mendatangkan striker baru yang lebih tajam. Sebaliknya, jika memaksakan penjualan, mereka berisiko kehilangan aset gratis yang masih memiliki potensi.
Di Indonesia, dinamika bursa transfer Juventus kerap menjadi perhatian penggemar sepak bola Tanah Air. Banyak yang menantikan apakah klub kesayangan mereka bisa bangkit kembali ke papan atas Eropa. Namun, dengan keterbatasan dana dan resistensi pemain, langkah Juventus musim panas ini akan menjadi ujian bagi manajemen dalam meracik skuad kompetitif tanpa menguras kas klub.
Ke depan, Juventus harus memutuskan: mempertahankan David dan berharap ia bangkit, atau mencari cara kreatif untuk mendanai pembelian striker baru—mungkin melalui penjualan pemain lain atau memanfaatkan skema pinjaman. Satu hal yang pasti, waktu terus berjalan, dan persaingan di Serie A tidak akan menunggu.



