Trump Ancam Kembali Bombardir Iran Jika Kesepakatan Damai Gagal dalam 60 Hari
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan siap melanjutkan serangan militer ke Iran jika Teheran tidak mematuhi nota kesepahaman gencatan senjata yang baru disepakati.
- Kesepakatan sementara yang ditengahi di sela KTT G7 di Prancis memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan perjanjian damai permanen.
- Trump mengakui tekanan ekonomi akibat perang menjadi pendorong utama di balik keputusannya untuk mencari resolusi cepat, namun tetap membuka opsi militer.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa Washington siap melanjutkan serangan bom jika Teheran dinilai tidak mematuhi kesepakatan gencatan senjata sementara yang baru ditandatangani. Pernyataan itu disampaikan Trump di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Evian-les-Bains, Prancis, Rabu (18/6/2026), menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati belum bersifat final.
"Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menembaki mereka, menjatuhkan bom di kepala mereka," ujar Trump kepada wartawan sebelum pertemuan bilateral dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Ia menambahkan, "Jika mereka tidak bersikap baik, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah kepala mereka." Ancaman ini muncul hanya beberapa hari setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Berdasarkan dokumen 14 poin yang dirilis pejabat senior AS, kesepakatan sementara itu memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari untuk memberi ruang negosiasi menuju perjanjian damai permanen. Selain itu, AS setuju mencabut blokade laut yang diberlakukan sejak April terhadap semua lalu lintas maritim yang mencoba masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Namun, isu-isu pelik seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi baru akan dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya.
Trump, yang mengumumkan kesepakatan itu pada hari ulang tahunnya yang ke-80, menyatakan bahwa para pemimpin G7 lainnya "sangat gembira" dengan perkembangan ini. Ia juga berterima kasih kepada Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin karena tetap netral, yang menurutnya memudahkan proses negosiasi. "Mereka bisa membuat segalanya jauh lebih sulit bagi kami," kata Trump.
Meski demikian, Trump kembali menegaskan bahwa jika dalam 60 hari tidak ada kemajuan berarti, AS siap melanjutkan operasi militer. "Jika tidak selesai dalam 60 hari, tidak apa-apa. Kami kembali ke pengeboman," ancamnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih rapuh dan dapat runtuh kapan saja.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah selalu membawa implikasi langsung. Kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan di Selat Hormuzโyang disebut dalam MoU untuk dibuka kembaliโberpotensi membebani anggaran subsidi energi dalam negeri. Selain itu, ketidakpastian geopolitik dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus investasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menjaga stabilitas harga energi dan memperkuat diplomasi di forum multilateral seperti OKI atau PBB.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah gencatan senjata 60 hari cukup untuk menjembatani perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran, atau justru menjadi jeda sebelum konflik kembali pecah? Dengan ancaman Trump yang gamblang, dunia menanti langkah Iran dalam memenuhi tuntutan AS.



