Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Melonguane, Sulawesi Utara: Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,4 mengguncang wilayah Melonguane, Sulawesi Utara, pada Kamis (18/6/2026) pukul 08.49 WIB.
- Pusat gempa berada di laut, 205 km barat laut Melonguane, dengan kedalaman dangkal 9 km, namun tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
- BMKG mengingatkan data awal gempa masih dapat berubah seiring kelengkapan informasi, dan masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Indonesia bagian utara, kali ini di perairan barat laut Melonguane, Sulawesi Utara, dengan kekuatan magnitudo 3,4 yang tercatat pada Kamis pagi (18/6/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami, namun tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 08.49.01 WIB dengan episenter terletak di koordinat 5,46 Lintang Utara dan 125,55 Bujur Timur. Pusat gempa berada di laut, tepatnya 205 kilometer barat laut Melonguane, dengan kedalaman sangat dangkal, yakni hanya 9 kilometer. Meski dangkal, magnitudo yang relatif kecil membuat guncangan tidak dirasakan secara luas dan tidak menimbulkan kerusakan berarti.
BMKG melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter) mengunggah informasi gempa ini dengan catatan disclaimer bahwa data yang dirilis masih bersifat sementara. โInformasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,โ tulis BMKG. Pernyataan ini lazim disertakan dalam setiap rilis awal gempa untuk mengantisipasi koreksi data selanjutnya.
Kedalaman dangkal gempa ini menjadi perhatian karena gempa dangkal, meski kecil, kerap menimbulkan guncangan yang lebih terasa di permukaan. Namun, dengan magnitudo di bawah 4,0, dampaknya biasanya terbatas pada getaran ringan yang tidak membahayakan. Wilayah Melonguane sendiri merupakan kawasan yang secara geologis aktif karena berada di dekat pertemuan lempeng tektonik, sehingga gempa kecil kerap terjadi.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Utara, informasi cepat dari BMKG menjadi krusial untuk kesiapsiagaan. Meski gempa kali ini tidak menimbulkan ancaman, kejadian ini mengingatkan pentingnya mitigasi bencana dan pemahaman akan tanda-tanda alam. BMKG terus mengimbau warga untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya dan selalu merujuk pada data resmi.
Ke depan, dengan meningkatnya aktivitas seismik di Indonesia, akurasi dan kecepatan informasi gempa akan terus menjadi tantangan. Pertanyaannya, seberapa siap masyarakat dan infrastruktur kita menghadapi gempa yang lebih besar? Satu hal yang pasti, setiap gempa kecil adalah pengingat bahwa Indonesia berada di lingkaran api Pasifik yang tak pernah benar-benar diam.



