Saat Negara Tak Baik-Baik Saja, Tertawa Jadi Pelarian: Antara Katarsis dan Kritik yang Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Masyarakat Indonesia kerap merespons krisis ekonomi dan politik dengan humor dan meme di media sosial sebagai mekanisme pertahanan diri.
- Fenomena ini bukan hal baru; jejaknya terlihat sejak Pemilu 2019 dan pandemi Covid-19, ketika lelucon menjadi alat meredakan ketegangan.
- Di balik fungsinya sebagai katarsis, humor berisiko mengaburkan substansi kritik jika terlalu fokus pada sensasi viral.

Di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga bahan bakar minyak, linimasa media sosial justru dipenuhi candaan dan meme. Ungkapan seperti "Hidup cuma sekali, tapi kenapa menjadi WNI" atau "Warga desa tidak menggunakan dolar karena cuma pake dulur" menjadi viral—sebuah respons jenaka yang sejatinya menyimpan kegelisahan mendalam.
Fenomena menertawakan keadaan sulit ini bukanlah sekadar hiburan. Pratiwi Utami, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa humor dalam situasi krisis berfungsi sebagai coping mechanism—cara psikologis untuk bertahan dan berdamai dengan hal-hal di luar kendali. "Masyarakat menggunakan meme sebagai instrumen yang praktis, ekonomis, dan memiliki dimensi sosial yang kuat," ujarnya dalam diskusi Suar Akademia.
Jejak penggunaan lelucon sebagai respons krisis sudah terlihat sejak Pemilu 2019, ketika tensi politik memanas. Saat itu, meme menjadi alat untuk meredakan ketegangan tanpa harus berhadapan langsung dengan risiko hukum. Pola serupa kembali muncul selama pandemi Covid-19, di mana ketidakpastian diterjemahkan ke dalam konten-konten ringan yang mudah dicerna.
Namun, Pratiwi mengingatkan bahwa meme memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, di bawah kondisi politik yang kaku, satire menjadi saluran kritik yang lebih aman. Di sisi lain, candaan yang terlalu viral berpotensi melepaskan konteks asli. Contohnya, lagu "My Little Bolu Ketan" yang awalnya merupakan kritik sosial, kini lebih diingat sebagai sensasi belaka, bukan pesan yang ingin disampaikan.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana warga menghadapi tekanan ekonomi dan politik. Alih-alih larut dalam kecemasan, mereka memilih tertawa—sebuah bentuk resistensi yang halus namun nyata. Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apakah tertawa cukup untuk mendorong perubahan, atau justru membuat kita terlena?
Ke depan, penting untuk tidak hanya menikmati lucunya meme, tetapi juga menggali makna di baliknya. Sebab, di balik tawa, ada jeritan yang tak terdengar—dan jika hanya berhenti pada gelak, kritik yang membangun bisa kehilangan tujuannya.



