Polwan Satgas Damai Cartenz Sambangi Pasar Keyabi, Buktikan Papua Aman Beraktivitas
Baca dalam 60 detik
- Polwan Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 mengunjungi Pasar Keyabi di Nduga untuk mempererat hubungan dengan masyarakat dan memastikan keamanan aktivitas ekonomi.
- Pendekatan humanis melalui dialog dan silaturahmi menjadi strategi utama Polri dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua Pegunungan.
- Kehadiran aparat di pasar tradisional diharapkan mendorong kepercayaan publik dan mendukung kelancaran roda perekonomian lokal.

Suasana Pasar Keyabi di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, berubah menjadi ajang silaturahmi antara aparat keamanan dan warga saat personel Polisi Wanita (Polwan) dari Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 turun langsung berbaur dengan para pedagang, Selasa (16/6/2026). Langkah ini menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi di wilayah yang kerap disorot karena isu keamanan itu tetap berjalan normal dan kondusif.
Pasar tradisional yang menjadi urat nadi perekonomian mama-mama Papua itu tampak ramai oleh jual beli hasil bumi seperti sayur-mayur dan umbi-umbian. Kehadiran Ipda Deni Alpianda, Ipda Fiona Safitri, dan sejumlah Polwan lainnya disambut hangat oleh para pedagang. Mereka tidak sekadar berpatroli, melainkan duduk berdialog, mendengar cerita warga, bahkan ikut membeli dagangan lokal. Interaksi ini memperlihatkan pendekatan humanis yang menjadi ciri khas Operasi Damai Cartenz.
Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa pasar merupakan ruang strategis untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat. "Kehadiran personel di Pasar Keyabi adalah komitmen Polri agar warga merasa aman dan aktivitas ekonomi berjalan lancar," ujarnya. Senada, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, menambahkan bahwa kedekatan dengan masyarakat menjadi modal utama menjaga stabilitas keamanan di Papua.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya pelaku usaha dan investor, momen ini memberi sinyal positif bahwa stabilitas keamanan di Papua Pegunungan terus membaik. Pasar tradisional seperti Keyabi menjadi barometer ekonomi kerakyatan yang tetap bergairah di tengah tantangan geografis dan sosial. Kehadiran Polwan yang ramah dan komunikatif juga membantu menghilangkan stigma negatif terhadap aparat di daerah rawan konflik.
Ke depan, pendekatan serupa diharapkan dapat diperluas ke wilayah lain di Papua. Pertanyaannya, mampukah model "pasar aman" ini menjadi katalisator pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Bumi Cenderawasih?



