Rabiot Kritik Kualitas Rumput MetLife Stadium: Seperti Lapangan Sintetis
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Prancis Adrien Rabiot mengecam kondisi lapangan MetLife Stadium usai laga perdana Piala Dunia, menyebutnya keras dan kaku seperti permukaan buatan.
- Keluhan serupa sebelumnya disampaikan Vinicius Junior, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap performa tim dan risiko cedera pemain.
- MetLife Stadium, yang akan menjadi tuan rumah final Piala Dunia, telah memasang rumput temporer namun tetap menuai kritik dari para pesepakbola.

Gelandang timnas Prancis, Adrien Rabiot, melontarkan kritik tajam terhadap kualitas lapangan MetLife Stadium di New Jersey setelah timnya mengalahkan Senegal 3-1 pada laga perdana Grup A Piala Dunia, Selasa (18/6). Pemain berusia 31 tahun itu menyebut permukaan lapangan lebih mirip rumput sintetis daripada rumput alami, mengganggu ritme permainan.
"Lapangan ini... saya bahkan tidak yakin bisa disebut lapangan. Rasanya seperti permukaan buatanโkeras dan kaku," ujar Rabiot seusai pertandingan. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mempersulit pergerakan bola dan membuat pemain kesulitan mengontrol umpan. Keluhan Rabiot bukan yang pertama; sebelumnya, bintang Brasil Vinicius Junior juga mengeluhkan lapangan yang cepat kering akibat panas, membuat permainan melamban saat Brasil ditahan Maroko 1-1.
MetLife Stadium, markas klub NFL New York Giants dan New York Jets, memiliki reputasi buruk terkait permukaan lapangan. Stadion berkapasitas 78.576 kursi ini biasanya menggunakan rumput sintetis, namun untuk Piala Dunia dipasang rumput alami temporer. Meski demikian, keluhan terus bermunculan. Sejumlah pemain NFL mengalami cedera serius di stadion ini, termasuk penerima Giants Malik Nabers yang robek ligamen anterior lututnya pada September laluโmenjadi korban terbaru dari apa yang disebut 'kutukan MetLife'.
Kritik para pemain ini menyoroti tantangan logistik penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat, di mana sebagian besar stadion dirancang untuk olahraga American football dengan lapangan sintetis. Meskipun FIFA mewajibkan rumput alami, pemasangan temporer seringkali tidak memberikan kualitas optimal. Bagi pesepakbola, permukaan yang keras meningkatkan risiko cedera otot dan sendi, serta mengubah cara bola bergulir.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, isu ini relevan mengingat antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia. Banyak penonton Indonesia yang akan menyaksikan laga-laga krusial di MetLife, termasuk kemungkinan pertandingan tim favorit mereka. Kualitas lapangan yang buruk dapat mempengaruhi hasil pertandingan dan mencederai pemain bintang, yang tentu merugikan hiburan dan kualitas turnamen.
FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan Rabiot dan Vinicius. Namun, dengan final Piala Dunia hanya sebulan lagi, tekanan untuk memperbaiki kondisi lapangan semakin besar. Apakah stadion ikonik ini mampu menyajikan permukaan yang layak bagi partai puncak? Atau akankah 'kutukan MetLife' kembali menghantui turnamen paling bergengsi di dunia?



