Myanmar dan China Teken 18 Kesepakatan: Dari Keamanan hingga Stadion Aung San
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan kenegaraan Pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke Beijing menghasilkan 18 nota kesepahaman dengan China, mencakup keamanan, perdagangan, dan rekonstruksi Stadion Aung San.
- Kesepakatan ini memperkuat posisi China sebagai mitra utama Myanmar di tengah isolasi internasional pasca-kudeta, dengan fokus pada inisiatif global Beijing.
- Bagi Indonesia, kerja sama ini berpotensi menggeser keseimbangan perdagangan di kawasan dan membuka peluang baru di sektor kesehatan serta infrastruktur.

China dan Myanmar resmi menandatangani 18 perjanjian dan nota kesepahaman (MoU) dalam kunjungan kenegaraan Pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing, ke Beijing pada 16 Juni lalu. Kesepakatan tersebut mencakup bidang keamanan, pembangunan, perdagangan, kesehatan, ilmu pengetahuan, media, dan infrastruktur, menandai penguatan hubungan bilateral di tengah tekanan internasional terhadap junta militer Myanmar.
Min Aung Hlaing tiba di Beijing atas undangan Presiden Xi Jinping dan disambut dengan upacara kehormatan di Balai Agung Rakyat. Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin membahas kerja sama strategis yang kemudian dituangkan dalam serangkaian dokumen. Sejumlah MoU mencakup dukungan terhadap tiga inisiatif global ChinaโGlobal Security Initiative (GSI), Global Civilization Initiative (GCI), dan Global Development Initiative (GDI)โserta bantuan China untuk rekonstruksi Stadion Aung San yang baru.
Di sektor perdagangan, perjanjian mengatur persyaratan fitosanitasi untuk ekspor tanaman obat China dan pisang segar Myanmar, serta prosedur karantina produk akuatik. Selain itu, ada kesepakatan untuk memfasilitasi transportasi lintas batas di Subkawasan Mekong Raya, kerja sama kesehatan, pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi, hak kekayaan intelektual, kebijakan persaingan usaha, dan dukungan terhadap perdagangan bebas.
Kedua negara juga bertukar dokumen terkait bantuan teknis kemanusiaan darurat untuk respons gempa bumi, serta kerja sama pengembangan media, teknologi, dan berbagi pengetahuan. Penandatanganan dilakukan oleh pejabat terkait dari kedua negara di hadapan Min Aung Hlaing dan Xi Jinping.
Bagi Indonesia, kesepakatan ini memiliki implikasi regional yang signifikan. China semakin mengukuhkan diri sebagai mitra utama Myanmar, yang sejak kudeta 2021 menghadapi sanksi dari Barat. Kerja sama di bidang kesehatan dan perdagangan dapat membuka peluang baru bagi eksportir Indonesia, terutama dalam produk pertanian dan akuatik, mengingat standar fitosanitasi yang disepakati bisa menjadi acuan. Namun, dominasi China di Myanmar juga berpotensi menggeser keseimbangan perdagangan di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan menjadi ujian bagi komitmen kedua negara. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana China dapat memengaruhi stabilitas politik Myanmar dan apakah kerja sama ini akan mendorong pemulihan ekonomi Myanmar yang terpuruk. Bagi Indonesia, langkah strategis perlu diambil untuk menjaga daya saing di pasar regional.



