TINS Bagikan Dividen Rp656,82 Miliar, Yield 2,7%: Catat Tanggal Krusial
Baca dalam 60 detik
- Pemegang saham TINS akan menerima Rp88 per lembar dari laba 2025, dengan total dividen Rp656,82 miliar.
- Rasio pembayaran 50% mencerminkan keseimbangan antara imbal hasil investor dan kebutuhan ekspansi perseroan.
- Jadwal cum dividen di pasar reguler jatuh pada 23 Juni 2026, menjadi momen kunci bagi investor ritel.

PT TIMAH Tbk (TINS) memutuskan untuk membagikan dividen tunai senilai Rp656,82 miliar kepada para pemegang saham, setara dengan 50% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan memberikan imbal hasil atau dividend yield sekitar 2,7% berdasarkan harga saham penutupan terakhir di level Rp3.300 per lembar.
Dividen per saham yang akan diterima investor mencapai Rp88. Jumlah ini berasal dari total laba bersih TINS sepanjang 2025 yang tercatat Rp1,31 triliun, tumbuh 5,12% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, perseroan menyisakan 50% laba atau sekitar Rp656,8 miliar sebagai saldo laba ditahan untuk mendanai pengembangan usaha ke depan.
Bagi investor ritel dan institusi, jadwal pembagian dividen menjadi informasi krusial. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 23 Juni 2026, sementara ex dividen dimulai dua hari setelahnya, yaitu 25 Juni 2026. Pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada recording date 25 Juni 2026 berhak atas dividen. Pembayaran tunai akan dilakukan pada 10 Juli 2026.
Langkah TINS membagikan separuh laba bersih menunjukkan komitmen terhadap pemegang saham di tengah prospek industri timah yang masih positif. Namun, keputusan ini juga mengindikasikan bahwa manajemen masih membutuhkan dana internal yang cukup besar untuk ekspansi, mengingat sisa laba ditahan mencapai Rp656,8 miliar. Analis menilai bahwa keseimbangan antara dividen dan laba ditahan menjadi strategi tepat di tengah fluktuasi harga komoditas timah global.
Bagi investor Indonesia, saham TINS kerap menjadi pilihan di sektor pertambangan karena likuiditasnya yang tinggi. Dengan dividend yield 2,7%, imbal hasil ini relatif kompetitif dibandingkan rata-rata yield saham tambang lain di Bursa Efek Indonesia. Namun, investor perlu mencermati risiko pergerakan harga timah dunia dan kebijakan ekspor yang dapat mempengaruhi kinerja perseroan ke depan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah TINS mampu mempertahankan pertumbuhan laba di tengah tekanan harga komoditas dan biaya produksi yang meningkat. Keputusan dividen tahun depan akan menjadi indikator keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang.



