Film Anime Perdamaian tentang Bom Fukuoka 1945 Dipulihkan, Tayang 19 Juni
Baca dalam 60 detik
- Film animasi 'Hi no ame ga furu' yang nyaris terlupakan berhasil direstorasi digital dan akan diputar perdana pada peringatan 80 tahun serangan udara Fukuoka.
- Proses restorasi terhambat masalah hak cipta yang baru terpecahkan pada 2025 berkat bantuan jurnalis NHK, memungkinkan generasi baru menyaksikan kisah anak-anak korban perang.
- Pemutaran ini menjadi pengingat akan pentingnya pelestarian memori sejarah, relevan bagi Indonesia yang juga memiliki pengalaman pahit masa lalu.

Sebuah film animasi tahun 1988 yang menggambarkan tragedi serangan udara di Fukuoka, Jepang, pada Perang Dunia II akan kembali diputar dalam versi digital yang telah direstorasi. Pemutaran spesial ini dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026 di Aula Video Perpustakaan Umum Kota Fukuoka, bertepatan dengan peringatan 81 tahun peristiwa kelam tersebut.
Film berjudul Hi no ame ga furu (Hujan Api) ini nyaris lenyap ditelan waktu karena kerusakan fisik pada gulungan film dan kaset video. Shuji Yoshimura, kepala distributor Cinema Arci yang memprakarsai restorasi, mengungkapkan harapannya agar film yang sarat pesan perdamaian ini dapat disaksikan oleh publik, khususnya generasi muda yang tidak mengalami perang. "Saya ingin karya yang lahir dari kerja keras para staf dan warga Prefektur Fukuoka ini diwariskan ke generasi berikutnya," ujarnya.
Film ini merupakan produksi bersama tiga perusahaan, termasuk Mushi Production Co., studio animasi yang didirikan oleh legenda manga Osamu Tezuka. Setelah dirilis, Hi no ame ga furu banyak digunakan dalam pendidikan perdamaian di sekolah-sekolah dan diputar secara mandiri di berbagai daerah. Namun, seiring waktu, kesempatan untuk menontonnya semakin menipis karena media fisiknya rusak. Upaya pemutaran resmi pun terhambat oleh ketidakjelasan kepemilikan hak cipta akibat bubarnya perusahaan terkait.
Masalah hak cipta baru terpecahkan pada 2025 ketika seorang reporter NHK Stasiun Fukuoka membantu mengonfirmasi administrator hak cipta. Dengan cetakan 35mm yang terawat di perpustakaan kota, Cinema Arci menanggung biaya dan menyelesaikan versi digital berkualitas tinggi. Kisah dalam film berfokus pada Yoriko, seorang siswi kelas enam yang kehilangan keluarganya dalam serangan udara Tokyo pada Maret 1945 dan kemudian tinggal di distrik Hakata, Fukuoka. Ia berteman dengan Yuji, putra seorang pengrajin boneka Hakata. Seiring memburuknya situasi perang, kebebasan anak-anak perlahan direnggut hingga puncaknya pada hari pengeboman Fukuoka yang mengubah pusat kota menjadi padang gurun abu.
Naskah film diadaptasi dari buku kumpulan kesaksian Hi no Ame ga Futta: 6.19 Fukuoka Daikushu. Para kru produksi kala itu bolak-balik dari Tokyo ke Fukuoka untuk meneliti arsitektur rumah tradisional Hakata, mendatangi daerah-daerah yang hancur parah, dan mendengarkan cerita para penyintas. Audisi lokal juga digelar, dan sekitar 20 anak-anak Fukuoka dipilih sebagai pengisi suara. Desainer karakter asli, seniman manga Hosei Hasegawa (80), menegaskan bahwa ia berusaha menghadirkan gambaran yang akurat secara historis tanpa menimbulkan ketidaknyamanan bagi penonton, baik yang mengalami perang maupun tidak.
Bagi Indonesia, upaya restorasi film sejarah seperti ini memberikan pelajaran berharga. Banyak dokumentasi visual tentang peristiwa bersejarah di Indonesia, seperti masa penjajahan atau peristiwa 1965, yang terancam hilang karena kerusakan fisik dan problem hak cipta. Inisiatif serupa bisa menjadi model bagi arsiparis dan pegiat sejarah di Tanah Air untuk menyelamatkan memori kolektif bangsa. Pemutaran Hi no ame ga furu juga mengingatkan bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan medium edukasi perdamaian lintas generasi.
Pemutaran di Fukuoka akan dibuka untuk umum dengan tiket masuk 800 yen (sekitar Rp85.000), gratis untuk anak prasekolah. Setelah film, penonton dapat mendengarkan cerita langsung dari seorang penyintas serangan udara. Pertanyaannya, mampukah kita di Indonesia melakukan hal serupa untuk menyelamatkan dokumentasi sejarah yang mulai lapuk?



