Melukis Kenangan Hiroshima: 14 Karya Baru dari Kesaksian Korban Bom Atom
Baca dalam 60 detik
- Siswa SMA di Hiroshima menciptakan 14 lukisan baru berdasarkan kesaksian langsung tujuh penyintas bom atom 1945.
- Proyek seni yang berlangsung sejak 2007 ini menjadi medium pelestari memori sekaligus pengingat akan dampak kemanusiaan perang nuklir.
- Karya-karya tersebut akan dipamerkan di Pusat Konferensi Internasional Hiroshima mulai 6 hingga 19 Agustus 2026.

Sebuah inisiatif seni yang lahir dari duka dan harapan kembali digelar di Hiroshima. Sebanyak 14 siswa SMA Kota Hiroshima bersama para lulusan baru menyelesaikan lukisan bertema bom atom berdasarkan kesaksian langsung para penyintas, yang diresmikan di sekolah mereka pada 8 Juni lalu. Proyek ini bukan sekadar latihan menggambar, melainkan upaya sistematis untuk menerjemahkan trauma kolektif menjadi bahasa visual yang bisa diwariskan lintas generasi.
SMA Negeri Motomachi Hiroshima telah menjalankan program "lukisan bom atom" sejak 2007. Setiap tahun, para siswa mendengarkan cerita para hibakusha—sebutan untuk korban selamat bom atom—dan menuangkannya ke kanvas. Tahun ini, tujuh penyintas berbagi pengalaman mereka, termasuk Tsutomu Yahata (90) yang untuk pertama kalinya bersedia membuka kisah kelam masa kecilnya. Yahata baru berusia 10 tahun ketika bom uranium meledak di atas Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Saat itu ia berada di luar rumahnya di Distrik Danbara Shinmachi, sekitar 2,5 kilometer dari titik nol ledakan.
Selama puluhan tahun, Yahata enggan bercerita. Namun dorongan istrinya, Teruko (88), yang aktif menyuarakan kesaksiannya sendiri, membuatnya akhirnya maju. "Saya ingin meninggalkan catatan untuk generasi mendatang," ujarnya. Keputusan Yahata menjadi simbol pergeseran generasi hibakusha: dari trauma yang membungkam menjadi panggilan untuk bersaksi sebelum ingatan itu ikut terkubur.
Salah satu lukisan paling menyayat hati dikerjakan oleh Saki Takuno (17), siswi kelas tiga. Ia melukis pemandangan yang disaksikan Yahata sekitar seminggu setelah bom jatuh. Dalam perjalanan ke rumah kerabat, Yahata melihat sisa-sisa jasad manusia yang hangus menempel di dinding Sekolah Nasional Honkawa—terhempas oleh gelombang ledakan. Seorang anggota korps sukarelawan tengah mengevakuasi jasad-jasad itu. "Saya bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa jasad hangus itu. Saya kesulitan menangkap warna dan cara mereka menempel di dinding," kenang Takuno. Proses kreatif ini, menurutnya, adalah pergulatan antara imajinasi dan fakta sejarah yang tak boleh dilupakan.
Bagi Indonesia, proyek ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang pernah mengalami konflik bersenjata dan kekerasan massal, praktik seni sebagai medium rekonsiliasi dan edukasi sejarah bukanlah hal asing. Namun, Hiroshima menawarkan pendekatan yang lebih terstruktur: melibatkan generasi muda sebagai penjaga memori, bukan sekadar penonton. Di tengah ancaman eskalasi nuklir global yang kembali menghangat—dari Semenanjung Korea hingga Ukraina—pesan lukisan-lukisan ini menjadi pengingat bahwa perang nuklir bukanlah skenario fiksi ilmiah, melainkan luka yang masih membekas.
Menurut para pengamat pendidikan, metode pembelajaran sejarah melalui seni seperti ini efektif menanamkan empati dan pemahaman mendalam. "Ketika siswa harus mencampur warna untuk merepresentasikan api atau abu, mereka tidak hanya belajar tentang peristiwa, tetapi juga merasakan bobot emosionalnya," ujar seorang kurator museum di Hiroshima yang terlibat dalam proyek serupa. Lukisan-lukisan itu, lanjutnya, menjadi jembatan antara fakta dingin di buku teks dan pengalaman manusiawi yang hangat.
Yahata, setelah melihat karya Takuno, berharap lukisannya bisa "mendorong orang untuk berpikir tentang perdamaian, agar tragedi hilangnya begitu banyak nyawa dalam sekejap tidak pernah terulang." Rangkaian lukisan ini akan dipamerkan mulai 6 Agustus—tepat 81 tahun setelah bom atom dijatuhkan—hingga 19 Agustus di Pusat Konferensi Internasional Hiroshima. Pertanyaannya, akankah dunia cukup belajar dari gambar-gambar ini, atau sejarah akan kembali menuliskan babak kelam yang sama?



