Wipro Dirikan Pusat AI Khusus Claude di Bengaluru, Siap Latih 10.000 Karyawan
Baca dalam 60 detik
- Wipro meluncurkan pusat keunggulan AI yang berfokus pada model Claude milik Anthropic di Bengaluru, menandai langkah strategis di tengah tekanan otomatisasi pada pendapatan perusahaan IT tradisional.
- Perusahaan berencana melatih 10.000 karyawan dalam 18 bulan ke depan untuk mengadopsi Claude, sementara analis memperingatkan potensi gangguan pada model bisnis padat karya sektor IT senilai $315 miliar.
- Persaingan di industri jasa TI India semakin ketat setelah TCS juga menjalin kemitraan serupa dengan Anthropic, mendorong transformasi menuju layanan berbasis AI.
Wipro, raksasa teknologi informasi asal India, resmi membuka pusat keunggulan (Center of Excellence/CoE) untuk kecerdasan buatan terapan yang berfokus pada model Claude milik Anthropic di Bengaluru. Langkah ini menjadi sinyal bahwa perusahaan jasa IT tradisional kian terdesak untuk beradaptasi di tengah gelombang otomatisasi yang menggerus pendapatan mereka.
Pusat yang diumumkan pada Selasa (16/6) tersebut dirancang untuk mempercepat adopsi AI di kalangan perusahaan melalui pemanfaatan model Claude. Wipro tidak hanya akan mengembangkan platform dan alat industri berbasis AI, tetapi juga mengintegrasikan teknologi ini ke dalam divisi keuangan, sumber daya manusia, dan penjualan internal mereka. Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Wipro menargetkan pelatihan 10.000 karyawan dalam 18 bulan ke depan agar mahir menggunakan Claude.
Langkah Wipro terjadi di saat yang kritis. Pada Februari lalu, saham perusahaan jasa IT India mengalami penurunan miliaran dolar setelah Anthropic meluncurkan alat agen AI yang memicu kekhawatiran investor. Analis dari Jefferies menilai bahwa kompresi pendapatan jasa masih akan membebani pertumbuhan Wipro dalam beberapa kuartal mendatang, namun AI justru dapat memperluas pasar yang bisa dijangkau melalui pembangunan ulang aplikasi dan desain ulang alur kerja.
Di balik ambisi ini, kekhawatiran investor semakin nyata. Model bisnis padat karya yang selama ini menjadi tulang punggung industri jasa TI Indiaโdengan ribuan pekerja yang mengerjakan proyek-proyek outsourcingโkini terancam oleh efisiensi yang ditawarkan AI. Jika adopsi AI berlangsung masif, bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan akan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia, yang berimplikasi pada lapangan kerja di sektor tersebut.
Persaingan di antara pemain besar pun kian memanas. Hanya lima hari sebelum pengumuman Wipro, pesaing utamanya, Tata Consultancy Services (TCS), mengumumkan aliansi dengan Anthropic untuk mendorong adopsi AI di tingkat perusahaan. Kedua perusahaan berlomba menjadi yang terdepan dalam menyediakan solusi AI generatif bagi klien global, terutama di tengah meningkatnya permintaan akan otomatisasi cerdas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Industri jasa TI dalam negeri, yang juga mengandalkan model outsourcing dan tenaga kerja terampil, perlu segera melakukan transformasi serupa agar tidak tertinggal. Pemerintah dan pelaku industri dapat melihat langkah Wipro dan TCS sebagai contoh bagaimana investasi dalam pelatihan AI dan pembangunan pusat keunggulan dapat menjadi kunci daya saing di era baru. Pertanyaannya, apakah perusahaan teknologi Indonesia siap mengikuti jejak mereka, atau justru akan menjadi penonton di tengah revolusi AI global?



