Ripple Masuk Pasar Afrika Lewat Investasi di Flutterwave, XRP Terkerek
Baca dalam 60 detik
- Ripple mengakuisisi saham Flutterwave, startup fintech Nigeria bernilai $3,2 miliar, sebagai langkah ekspansi ke Afrika.
- Harga XRP naik tipis ke $1,23 didukung volume perdagangan melonjak 25% dan akumulasi whale yang mencapai 74,1% pasokan.
- ETF XRP mencatat arus masuk bersih $2,82 juta, menandai rotasi modal institusional dari Bitcoin ke altcoin.

Ripple, perusahaan blockchain asal San Francisco, resmi menjadi investor di Flutterwave, perusahaan pembayaran digital Nigeria yang kini menjadi salah satu startup fintech paling bernilai di Afrika. Langkah ini mendorong harga XRP naik tipis ke level $1,23 pada Selasa (16/6/2026), seiring volume perdagangan yang melonjak 25% menjadi sekitar $3 miliar.
Investasi ini merupakan bagian dari putaran pendanaan Seri E Flutterwave yang mencapai valuasi $3,2 miliar. Dengan penyertaan modal langsung, Ripple tidak lagi sekadar menjalin kemitraan teknologi, melainkan mengambil posisi kepemilikan saham di perusahaan yang mendominasi transaksi lintas batas di Afrika. Bloomberg melaporkan kesepakatan ini pada 16 Juni 2026.
Kombinasi antara jaringan pembayaran berbasis blockchain global Ripple dan penguasa pasar pembayaran Afrika Flutterwave dipandang sebagai sinergi strategis. Bagi Ripple, langkah ini membuka akses langsung ke ekosistem keuangan digital Afrika yang tumbuh pesat, sementara Flutterwave mendapatkan dukungan likuiditas dan infrastruktur blockchain untuk memperluas layanannya.
Selain investasi di Flutterwave, Ripple juga memperluas kemitraan dengan Bitso, perusahaan jasa keuangan digital terkemuka di Amerika Latin. Melalui kolaborasi ini, stablebank MXNB yang diatur oleh otoritas Meksiko akan diterbitkan di XRP Ledger (XRPL) dan diintegrasikan ke dalam infrastruktur Payments on Decentralised Exchange (DEX) milik Ripple. Bersama RLUSD, stablebank dolar AS milik Ripple, MXNB diharapkan memperlancar likuiditas dan penyelesaian pembayaran lintas batas di koridor AS-Meksiko.
Katalis geopolitik juga turut mendorong reli XRP. Pada Senin, token ini menembus level $1,28 untuk pertama kalinya sejak akhir Maret 2026, seiring meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Data on-chain menunjukkan akumulasi besar-besaran oleh whaleโpemegang dompet besarโyang kini menguasai 74,1% pasokan XRP yang beredar. Sentimen ini diperkuat oleh persetujuan SEC untuk memasukkan XRP ke dalam ETF kripto T. Rowe Price, menandakan adopsi institusional yang semakin matang.
Menariknya, arus dana institusional mulai bergeser. Pada 15 Juni, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih $64,09 juta, sementara ETF XRP justru mencatat arus masuk $2,82 juta. Divergensi ini mengindikasikan rotasi modal dari Bitcoin ke altcoin seperti XRP, meskipun analis mengingatkan bahwa tren ini perlu berkelanjutan untuk dikonfirmasi sebagai pergeseran struktural, bukan sekadar rotasi jangka pendek.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi penting. Sebagai negara dengan populasi pengguna kripto yang besar dan ekosistem fintech yang dinamis, langkah Ripple di Afrika bisa menjadi preseden bagi ekspansi serupa di Asia Tenggara. Jika Ripple mulai mengincar pasar seperti Indonesia melalui investasi langsung di startup pembayaran lokal, persaingan di sektor remitansi dan pembayaran lintas batas bisa semakin ketat. Regulator Indonesia, yang tengah menyusun kerangka hukum untuk aset kripto dan stablebank, patut mencermati model kemitraan Ripple-Bitso dan Ripple-Flutterwave sebagai referensi pengaturan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Ripple akan melanjutkan strategi ekspansi ekuitas ke kawasan lain, termasuk Asia, dan bagaimana respons regulator terhadap model integrasi stablebank di XRPL. Dengan akumulasi whale yang ekstrem dan ketergantungan pada sentimen institusional, volatilitas XRP tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai investor ritel.



