Nico Paz Tetap di Como, Real Madrid Ikuti Strategi Mourinho
Baca dalam 60 detik
- Nico Paz memutuskan bertahan di Como untuk musim 2026-27, meski Real Madrid memiliki opsi rekrut hingga 2027.
- Keputusan ini sejalan dengan saran José Mourinho yang mengutamakan pengalaman dalam perencanaan skuad Los Blancos.
- Como yang akan tampil perdana di Liga Champions musim depan berupaya mempertahankan Paz dengan formula transfer khusus.

Nico Paz dipastikan akan berseragam Como untuk musim 2026-27, setelah pemain asal Argentina itu menyampaikan keinginannya kepada Real Madrid. Keputusan ini mengikuti rekomendasi José Mourinho yang menyarankan Los Blancos untuk memprioritaskan pemain berpengalaman dalam membangun tim.
Menurut laporan AS.com, Paz telah bertemu dengan direktur Como dan pelatih Cesc Fabregas, serta menyampaikan niatnya untuk tetap di klub yang musim depan akan berlaga di Liga Champions untuk pertama kalinya. Real Madrid, yang memiliki opsi membeli kembali Paz hingga 2027, disebut setuju dengan langkah ini karena tengah fokus mendatangkan pemain senior seperti Denzel Dumfries, Marc Cucurella, dan Bernardo Silva.
Paz bergabung dengan Como secara permanen pada 2024 setelah dilepas Real Madrid. Namun, klub asal Spanyol itu menyematkan klausul pembelian kembali yang masih berlaku. Sky Sport Italia melaporkan bahwa Como semakin optimis bisa mempertahankan Paz, namun negosiasi antarklub masih berlangsung untuk menentukan formula transfer yang tepat agar pemain berusia 21 tahun itu bisa menjalani musim ketiga berturut-turut di Stadio Giuseppe Sinigaglia.
Keputusan Paz bertahan di Como menjadi sinyal bahwa pemain muda berbakat masih bisa berkembang di klub yang tepat, meski bayang-bayang raksasa Eropa seperti Real Madrid terus mengintai. Bagi Como, kehadiran Paz menjadi aset berharga menjelang debut mereka di kompetisi antarklub paling prestisius di Eropa. Fabregas, yang akrab dengan sepak bola Spanyol, diyakini menjadi faktor kunci dalam meyakinkan Paz untuk tetap setia.
Di sisi lain, strategi Real Madrid mengikuti jejak Mourinho—yang kini menukangi Fenerbahçe—menunjukkan pergeseran filosofi klub. Jika sebelumnya Los Blancos gemar merekrut talenta muda, kini mereka lebih memilih pemain matang yang siap bersaing di level tertinggi. Langkah ini bisa menjadi preseden bagi klub-klub Eropa lainnya, termasuk di Indonesia, yang kerap dihadapkan pada pilihan antara investasi jangka panjang atau hasil instan.
Bagi pengamat sepak bola Tanah Air, kasus Paz mengingatkan pada dilema yang sering dihadapi pemain muda Indonesia: bertahan di klub yang memberi menit bermain reguler atau pindah ke klub besar dengan risiko minim kesempatan. Como, yang musim depan akan bermain di Liga Champions, menawarkan panggung ideal bagi Paz untuk terus mengasah kemampuan tanpa harus tenggelam di bangku cadangan.
Ke depannya, apakah Real Madrid akan tetap mempertahankan opsi pembelian kembali Paz atau justru melepasnya sepenuhnya? Jawabannya akan bergantung pada perkembangan Paz di Como dan kebutuhan skuad Los Blancos pada bursa transfer mendatang.