Gempa Magnitudo 3,7 Guncang Sigi, Sulawesi Tengah: Waspada Gempa Dangkal
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi berkekuatan 3,7 magnitudo melanda Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa siang dengan pusat di kedalaman hanya 5 kilometer.
- BMKG mencatat lokasi episenter 44 kilometer timur laut Sigi, termasuk kategori gempa dangkal yang berpotensi menimbulkan kerusakan jika lebih kuat.
- Masyarakat diimbau tetap tenang dan memantau informasi resmi, mengingat data awal BMKG masih dapat berubah seiring kelengkapan data.
Gempa bumi dangkal kembali mengguncang Sulawesi Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bermagnitudo 3,7 terjadi di wilayah Kabupaten Sigi, Selasa (16/6/2026) pukul 11:45:18 WIB. Meski berkekuatan kecil, kedalaman gempa yang hanya 5 kilometer menjadikannya perhatian karena gempa dangkal berpotensi lebih terasa dan merusak jika magnitudonya lebih besar.
Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada di koordinat 1,13 Lintang Selatan dan 120,19 Bujur Timur, tepatnya 44 kilometer timur laut Sigi, Sulawesi Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu zona seismik aktif di Indonesia, mengingat posisinya yang dekat dengan jalur sesar dan subduksi. Gempa dangkal seperti ini kerap terjadi akibat aktivitas sesar lokal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. Namun, masyarakat di sekitar lokasi gempa merasakan getaran ringan selama beberapa detik. BMKG mengingatkan bahwa data yang dirilis masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan kelengkapan informasi dari stasiun pemantau.
Menurut catatan BMKG, Sulawesi Tengah termasuk daerah rawan gempa karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Gempa-gempa kecil seperti ini sebenarnya menjadi pengingat akan potensi bencana yang lebih besar. Pada 2018, gempa dan tsunami Palu yang menewaskan ribuan orang menjadi bukti betapa dahsyatnya kekuatan alam di wilayah ini.
Bagi warga Sigi dan sekitarnya, gempa kali ini mungkin hanya getaran sesaat. Namun, para ahli mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. "Gempa dangkal dengan magnitudo kecil sering menjadi prekursor aktivitas seismik yang lebih besar, meski tidak selalu," ujar seorang seismolog yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa masyarakat harus tetap waspada dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Ke depan, pemerintah daerah dan BMKG diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan. Pertanyaannya, apakah gempa kecil ini cukup untuk menyadarkan kita semua bahwa Indonesia duduk di atas 'ring of fire' yang tak pernah benar-benar tidur?



