Investor Nigeria Kehilangan Rp 3,2 Triliun dalam Sehari, Indeks Bursa Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan Nigeria ambles 0,63% pada awal pekan, menghapus kapitalisasi pasar senilai hampir Rp 3,2 triliun.
- Lonjakan inflasi inti ke 15,89% memicu aksi jual besar-besaran, terutama di sektor minyak dan gas yang turun 3,2%.
- Tekanan jual diperkirakan berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz dan aksi ambil untung investor.

Bursa saham Nigeria (NGX) memulai pekan dengan kinerja negatif setelah investor kehilangan sekitar 984 miliar naira (setara Rp 3,2 triliun) dalam satu hari perdagangan. Indeks harga saham gabungan (All-Share Index) ambles 0,63% ke level 243.204,73 poin, menyeret kapitalisasi pasar menjadi 155,99 triliun naira.
Penurunan ini dipicu oleh reaksi pasar terhadap data inflasi Nigeria yang melonjak ke 15,89% secara tahunan. Tekanan harga yang tinggi mendorong investor untuk melepas saham, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan biaya operasional. Sesi perdagangan dibuka dengan optimisme, namun aksi jual mendominasi sejak pertengahan hari.
Volume transaksi tercatat 744,99 juta saham, turun 56,7% dibandingkan perdagangan sebelumnya, sementara nilai transaksi menyusut 31% menjadi 36,44 miliar naira. Namun, jumlah transaksi justru melonjak 62,58% menjadi 80.977 deal, mengindikasikan fragmentasi keputusan investor di tengah ketidakpastian.
Mayoritas sektor ditutup di zona merah. Sektor minyak dan gas menjadi yang terburuk dengan koreksi 3,2%, disusul komoditas (-1,86%), perbankan (-1,0%), asuransi (-0,68%), barang konsumen (-0,39%), dan industri yang nyaris stagnan. Pelemahan sektor energi terkait erat dengan ketidakpastian pasca pembukaan kembali Selat Hormuz dan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, yang mempengaruhi prospek harga minyak global.
Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi kecil justru mencatat penguatan. Saham ROYALEX, IKEJAHOTEL, CONHALLPLC, UPL, dan MANSARD berhasil masuk dalam jajaran top gainers, meskipun kontribusinya terhadap indeks terbatas. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor ritel masih mencari peluang di saham-saham murah, sementara dana besar cenderung melakukan profit taking.
Analis pasar memperkirakan tekanan jual masih akan berlanjut dalam beberapa sesi ke depan. Faktor utama yang membayangi adalah aksi ambil untung setelah indeks mencatat kenaikan year-to-date sebesar 56,29%โmeskipun turun dari level tertingginya. Selain itu, ketidakpastian kebijakan moneter Bank Sentral Nigeria dalam merespons inflasi juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Bagi investor Indonesia, kondisi bursa Nigeria memberikan gambaran tentang bagaimana inflasi tinggi dan risiko geopolitik dapat memicu koreksi tajam. Meskipun pasar modal Indonesia memiliki fundamental berbeda, tekanan serupa bisa terjadi jika inflasi domestik tak terkendali atau ketegangan global kembali memanas. Pertanyaan yang muncul: akankah Bank Sentral Nigeria menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya untuk menstabilkan pasar?



