Harga Apartemen Baru di Tokyo Sentuh Rp15,6 Miliar, Rekor Tertinggi Kedua
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata harga kondominium baru di pusat Tokyo pada Mei 2026 mencapai 162,86 juta yen (sekitar Rp15,6 miliar), naik 15,9% year-on-year dan menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah.
- Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya biaya konstruksi, tenaga kerja, dan material, serta ketidakpastian geopolitik yang membuat harga sulit turun dalam waktu dekat.
- Fenomena ini mencerminkan tren kenaikan harga properti di kota-kota besar global, yang berpotensi mempengaruhi persepsi investor Indonesia terhadap pasar properti premium di Asia.

Rata-rata harga kondominium baru di kawasan pusat Tokyo pada Mei 2026 melonjak 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 162,86 juta yen atau setara dengan Rp15,6 miliar. Angka ini menjadi rekor tertinggi kedua sejak pencatatan data dimulai pada 1973, menurut laporan Real Estate Economic Institute yang dirilis Kamis (18/6). Lonjakan ini terutama didorong oleh penjualan satu unit apartemen menara super-mewah yang harganya jauh di atas rata-rata.
Harga rata-rata di pusat Tokyo telah bertahan di atas 100 juta yen selama 13 bulan berturut-turut, menandakan bahwa pasar properti premium di ibu kota Jepang masih sangat panas. Di kawasan metropolitan yang lebih luas—mencakup Tokyo dan tiga prefektur tetangganya—harga rata-rata naik 13,5 persen menjadi 106,60 juta yen, juga menempati posisi tertinggi ketiga sepanjang sejarah. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya biaya konstruksi, upah tenaga kerja, dan harga material bangunan.
Seorang pejabat institut riset tersebut mengungkapkan bahwa saat ini hanya ada sedikit faktor yang dapat mendorong penurunan harga. Biaya material yang tinggi masih dipengaruhi oleh ketidakpastian konflik di Timur Tengah, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang yang berlangsung berbulan-bulan. Namun, pejabat itu memperkirakan dibutuhkan waktu dua hingga tiga bulan bagi kondisi pasar untuk kembali normal. Selain itu, kenaikan biaya tenaga kerja dan harga tanah yang tinggi turut menekan harga jual properti.
Jumlah unit kondominium baru yang dipasarkan di Tokyo dan prefektur sekitarnya—Chiba, Kanagawa, dan Saitama—mencapai 1.447 unit, naik 12,3 persen dibandingkan tahun lalu. Chiba mencatat lonjakan signifikan dengan peningkatan 2,3 kali lipat menjadi 360 unit. Sementara itu, di wilayah barat Tokyo yang berada di luar 23 distrik pusat, harga rata-rata tumbuh 28,9 persen menjadi 84,54 juta yen. Di Chiba, harga melonjak 38,3 persen menjadi 72,08 juta yen. Namun, harga di Saitama justru turun 17,7 persen menjadi 55,79 juta yen, dan di Kanagawa turun 7,6 persen menjadi 71,30 juta yen.
Bagi pasar properti Indonesia, tren ini memberikan gambaran bahwa harga properti premium di kota-kota besar Asia masih menunjukkan resistensi terhadap tekanan ekonomi global. Meskipun Jepang menghadapi tantangan biaya konstruksi yang tinggi, permintaan terhadap hunian mewah di pusat kota tetap kuat. Investor Indonesia yang melirik properti di luar negeri, khususnya di Jepang, perlu mencermati bahwa harga di kawasan pinggiran seperti Saitama dan Kanagawa justru mengalami koreksi, menandakan adanya pergeseran preferensi lokasi. Di sisi lain, kenaikan harga di Chiba dan Tokyo barat menunjukkan bahwa daerah penyangga mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kenaikan harga ini akan berlanjut seiring dengan normalisasi konflik Timur Tengah dan potensi penurunan biaya material. Jika kondisi geopolitik membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, tekanan biaya konstruksi mungkin mereda, namun permintaan yang masih tinggi dan terbatasnya pasokan lahan di pusat Tokyo diperkirakan akan tetap menopang harga di level tinggi. Pasar properti Indonesia, khususnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dapat mengambil pelajaran dari dinamika ini dalam mengelola ekspektasi harga dan pasokan hunian baru.



