Ciara Mageean: Juara Eropa Lawan Kanker Stadium Empat, Tetap Genggam Harapan
Baca dalam 60 detik
- Pelari jarak menengah Irlandia, Ciara Mageean, didiagnosis kanker usus stadium empat pada Mei 2025 dan telah menjalani 18 siklus kemoterapi.
- Meski prognosis medis memberikan harapan hidup dua hingga tiga tahun, Mageean bertekad menjadi bagian dari 10-15% pasien yang bertahan lebih dari lima tahun.
- Di tengah perjuangan melawan kanker, ia merencanakan pernikahan dan mencari opini kedua untuk pengobatan, sembari merelakan karier atletik yang berakhir mendadak.

Ciara Mageean, pelari jarak menengah Irlandia yang pernah meraih emas Eropa 2024, memilih untuk tidak menyerah pada kanker usus stadium empat yang didiagnosis pada Mei 2025. Dalam wawancara dengan BBC Sport NI, atlet berusia 34 tahun itu menegaskan bahwa harapan adalah sesuatu yang harus diciptakan sendiri, bukan sekadar menunggu keajaiban.
Mageean telah menjalani 18 putaran kemoterapi sejak diagnosis. Ia mengakui bahwa kabar tersebut "benar-benar menghancurkan", terutama saat dokter menyampaikan kemungkinan ia hanya memiliki dua hingga tiga tahun untuk hidup. Namun, ia berpegang pada harapan untuk menjadi bagian dari 10 hingga 15 persen pasien yang bertahan lebih dari lima tahun. "Saya berharap penelitian yang sedang berlangsung dapat mengubah prognosis saya," ujarnya.
Bagi Mageean, momen tersulit bukanlah menerima diagnosis, melainkan menyampaikannya kepada keluarga. "Ayah saya harus berjalan-jalan sebentar. Ia tidak ingin saya melihatnya menangis," kenangnya. Ia juga merasakan beban yang dipikul keluarganya, yang merasa tidak bisa membantu secara langsung. "Saya senang bahwa sayalah yang menanggung semua rasa sakit dan penyakit ini. Mereka sangat ingin membantu, tetapi tidak bisa."
Karier atletik Mageean yang gemilangโtermasuk perak Commonwealth Games 2022 dan emas Eropa 2024โharus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Cedera membuatnya absen dari Olimpiade Paris 2024, dan kini ia harus merelakan ambisi tampil di Los Angeles 2028. "Saya tidak mendapatkan momen di lintasan untuk mengucapkan selamat tinggal, perlombaan terakhir yang istimewa," katanya. Meski demikian, ia berusaha bersyukur atas karier yang telah dijalaninya selama 18 tahun.
Mageean mengaku sempat berhenti menonton atletik setelah diagnosis, dan baru belakangan ini bisa kembali mengikuti olahraga yang ia cintai. Kesedihan atas karier yang hilang ia sebut sebagai "perjalanan, bukan tujuan". "Akan selalu ada momen di mana saya merasa pahit, kecewa, dan marah. Tapi kemudian saya mencoba mengalihkan pikiran dan menyadari bahwa saya memiliki karier yang luar biasa, yang tidak dimiliki banyak orang," tuturnya.
Di tengah ketidakpastian, Mageean tetap merencanakan masa depan. Ia tengah mempersiapkan pernikahan dengan pasangan lamanya, Tommy, dan mencari opini kedua untuk opsi pengobatan. "Saya tidak ingin meninggalkan satu batu pun yang belum terbalik. Mudah-mudahan, pada akhir tahun ini, saya sudah memiliki cincin kawin di jari saya," ujarnya dengan optimisme.
Filosofi Mageean sederhana: jangan biarkan rasa takut, amarah, dan kesedihan menjadi emosi yang dominan. "Jika itu terjadi, maka akan menghilangkan kebahagiaan yang ada. Saya percaya pada kebaikan manusia. Berbagi sedikit harapan satu sama lain adalah hal yang indah," pungkasnya. Pertanyaan besarnya kini: akankah harapan dan perjuangannya mampu memperpanjang waktu yang tersisa?


