Wabah Ebola di Kongo: Strain Langka Tanpa Vaksin, Kasus Melonjak 72 dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) disebabkan oleh strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan spesifik, berbeda dari wabah sebelumnya.
- Kasus harian melonjak hingga 72 pada 13 Juni 2026, dengan total 837 kasus dan 196 kematian, diperparah oleh konflik bersenjata yang menghambat pelacakan kontak.
- Para ahli menilai risiko pandemi global masih rendah, tetapi memperingatkan bahwa penarikan dukungan AS dari WHO dapat melemahkan upaya penanggulangan.

Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) memasuki fase kritis setelah laporan pada 13 Juni 2026 mencatat 72 kasus baru dan 29 kematian dalam sehari—salah satu lonjakan harian tertinggi sejak wabah diumumkan pada Mei lalu. Hingga 16 Juni, total kasus konfirmasi mencapai 837, dengan 196 kematian dan 376 pasien dirawat di isolasi. Yang membedakan wabah kali ini adalah penyebabnya: strain Bundibugyo, varian langka yang belum memiliki vaksin maupun terapi khusus.
Strain Bundibugyo, berbeda dengan strain Zaire yang menjadi biang wabah besar 2014–2016 di Afrika Barat, memerlukan alat diagnostik berbeda. Keterlambatan identifikasi ini membuat virus menyebar lebih luas sebelum otoritas kesehatan menyadarinya. "Otoritas awalnya tidak menyadari wabah ini disebabkan oleh Bundibugyo, bukan Zaire yang lebih umum, sehingga tes diagnostik yang digunakan tidak tepat," ungkap Monica Gandhi, spesialis penyakit menular dari University of California, San Francisco.
Kombinasi antara ketiadaan vaksin, konflik bersenjata di wilayah timur DRC, dan menurunnya efektivitas pelacakan kontak menjadi tantangan utama. Menurut Gandhi, "Virus menyebar karena sulit melacak dan mengisolasi semua kasus di tengah zona konflik, di mana warga kerap melarikan diri dari serangan dan tidak mematuhi arahan kesehatan." Cakupan pelacakan kontak kini hanya 64,4% di tiga provinsi, jauh dari standar ideal untuk mengendalikan wabah.
Dari sisi pengembangan vaksin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meninjau kemungkinan penggunaan Erbevo—vaksin untuk strain Zaire—namun menyimpulkan bahwa vaksin tersebut tidak boleh digunakan di luar penelitian ketat. Vaksin potensial lain, seperti rVZV Bundibugyo yang dikembangkan International AIDS Vaccine Initiative (IAVI), diperkirakan baru siap uji klinis dalam 7–9 bulan. Sementara itu, vaksin berbasis mRNA dan vektor virus lain masih dalam tahap awal pengembangan.
Bagi Indonesia, wabah ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular emerging. Meskipun risiko penyebaran ke Asia Tenggara dinilai rendah karena Ebola tidak menular melalui droplet atau masa inkubasi tanpa gejala, mobilitas global tetap menjadi celah. Kementerian Kesehatan RI perlu memperketat pengawasan di pintu masuk negara, terutama bagi pelancong dari Afrika, serta memperkuat kapasitas laboratorium untuk mendeteksi strain virus yang tidak lazim.
"Penarikan AS dari WHO dan runtuhnya USAID merupakan pukulan besar bagi upaya penahanan kesehatan global, karena AS dulu menjadi pemain utama dalam kesehatan global," tegas Gandhi.
Meski angka kasus mengkhawatirkan, Gandhi optimistis wabah ini tidak akan menjadi pandemi. "Ebola hanya menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh, bukan lewat udara, dan tidak menular saat tanpa gejala. Jika pelacakan kontak, isolasi, dan karantina berjalan efektif, wabah dapat dikendalikan," ujarnya. Namun, ia menekankan perlunya investasi kembali AS ke WHO, kehadiran otoritas kesehatan di lapangan, serta percepatan pengembangan vaksin dan terapi.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah komunitas internasional bergerak cepat sebelum strain Bundibugyo menyebar lebih luas, atau justru pengurangan dukungan global akan membuat wabah ini menjadi ujian terberat penanganan Ebola dalam satu dekade terakhir?



