Jo Martin: Doctor Who Tak Pernah Berakhir, Karier yang Terus Memberi
Baca dalam 60 detik
- Aktris Jo Martin kembali memerankan Fugitive Doctor dalam proyek multimedia 'Circuit Breaker' yang akan tayang Juni hingga September.
- Martin mengungkapkan bahwa peran tersebut memberinya ruang untuk mengeksplorasi sisi rentan dan multidimensional karakternya.
- Kabar ini muncul di tengah keputusan BBC melepas produksi serial utama Doctor Who ke tender kompetitif dan membatalkan episode Natal.

Jo Martin, aktris yang memerankan Fugitive Doctor dalam serial fiksi ilmiah legendaris Doctor Who, menyebut peran itu sebagai 'pekerjaan yang tak pernah berakhir'—dan itu bukan keluhan. Bagi Martin, 57, menjadi bagian dari jagat Whoniverse adalah anugerah karier yang terus memberi kejutan.
Martin akan kembali memerankan karakter misterius tersebut dalam petualangan bertajuk 'Circuit Breaker' yang berlangsung dari Juni hingga September. Berbeda dengan penampilan televisi yang terbatas, proyek ini menjangkau berbagai platform: komik, majalah, buku, dan serial audio. Inilah kali pertama Martin mendapat kesempatan menggali lebih dalam sisi manusiawi dari The Doctor yang biasanya digambarkan tegas dan tanpa basa-basi.
“Di TV, karakternya sangat decisive, tahu persis apa yang dilakukan, garis keras, dan tidak ada omong kosong,” kata Martin kepada Radio Times. “Tapi dengan Big Finish dan Circuit Breaker, kami punya ruang untuk bernapas, menambahkan nuansa, dan menjadikannya karakter yang jauh lebih multidimensional.”
Martin menekankan bahwa Fugitive Doctor memiliki 'begitu banyak lapisan' yang belum tersentuh, termasuk sisi rentan dan penyesalan. Ia mengibaratkan penggunaan sarkasme dan humor sebagai topeng untuk menyembunyikan bagian lain dari dirinya. “Kesempatan untuk mengembangkan latar belakangnya benar-benar luar biasa,” ujarnya.
Komentar Martin muncul di tengah perubahan besar dalam produksi Doctor Who. BBC baru saja mengumumkan bahwa serial utama akan dilepas ke tender kompetitif tahun ini, sejalan dengan kewajiban Piagam dan Perjanjian BBC. Keputusan ini diambil untuk 'menjamin masa depan pertunjukan bagi generasi mendatang'. Selain itu, episode Natal yang sebelumnya direncanakan juga dibatalkan. Russell T Davies, showrunner, bersama Bad Wolf dan BBC, memilih untuk menginvestasikan sumber daya ke serial mendatang alih-alih menjembatani jeda dengan satu episode spesial.
Bagi penggemar Doctor Who di Indonesia, perkembangan ini menandai era baru yang penuh ketidakpastian namun juga potensi segar. Meski serial utama mungkin mengalami perubahan format atau platform distribusi, proyek seperti 'Circuit Breaker' menunjukkan bahwa semesta Doctor Who terus meluas ke media lain. Pertanyaannya, akankah BBC mempertahankan kualitas naratif yang membuat waralaba ini bertahan selama enam dekade? Atau justru tender kompetitif akan membuka pintu bagi pendekatan baru yang lebih relevan dengan audiens global, termasuk di Asia Tenggara?



