F1 Klaim Emisi Karbon Turun 35%: Langkah Menuju Net Zero 2030
Baca dalam 60 detik
- Formula 1 mencatat penurunan emisi karbon sebesar 35% sejak 2018, didorong oleh peralihan moda transportasi kargo dan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
- Restrukturisasi kalender balap, seperti pengelompokan geografis seri, menjadi strategi utama yang mengurangi emisi logistik hingga 21% dalam setahun terakhir.
- Target net zero 2030 mensyaratkan pengurangan emisi absolut minimal 50%, dengan sisanya dikompensasi melalui program kredit karbon terverifikasi.

Formula 1 mengumumkan bahwa jejak karbonnya telah menyusut 35% dari level 2018, menempatkan ajang balap jet darat itu pada jalur yang tepat untuk memenuhi komitmen net zero pada 2030. Laporan tahunan musim 2025 menunjukkan total emisi karbon dioksida turun dari 228.793 ton menjadi 148.805 ton, atau berkurang 12% dibanding tahun sebelumnya.
Penurunan ini tidak terjadi secara kebetulan. F1 mengubah strategi logistik secara fundamental: mengalihkan pengiriman kargo dari moda udara ke laut, berinvestasi besar-besaran pada bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel), dan merombak kalender balap agar lebih efisien secara geografis. Emisi dari pabrik dan fasilitas tim bahkan anjlok 64% dari baseline 2018, sementara emisi logistik turun 21% dalam setahun terakhir.
Salah satu langkah konkret adalah penyatuan jadwal Grand Prix Miami dan Kanada secara berurutan pada 2025, tanpa diselingi balapan Eropa. Keputusan ini, meski belum masuk dalam hitungan laporan utama, diperkirakan memangkas emisi perjalanan dan logistik hampir 3%. Sejak 2024, Grand Prix Jepang juga digeser ke musim semi agar bisa digabung dengan seri Australia dan China, menggantikan posisi musim gugur sebelumnya.
Presiden dan CEO F1, Stefano Domenicali, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil kerja kolektif seluruh ekosistem olahraga. โDari rasionalisasi kalender hingga investasi lebih besar pada bahan bakar berkelanjutan dan solusi energi alternatif, kami berhasil mengurangi jejak karbon sementara olahraga ini terus tumbuh dan menjangkau audiens baru di seluruh dunia,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Ellen Jones, Kepala Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola F1, menambahkan bahwa investasi ganda pada bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan investasi perdana pada bahan bakar maritim berkelanjutan menjadi kunci. โKami mendorong adopsi teknologi terbaru tanpa mengorbankan performa, ambisi, atau tontonan yang mendefinisikan Formula 1,โ katanya.
Bagi Indonesia, langkah F1 ini menjadi sinyal penting bagi industri otomotif dan logistik nasional. Dengan target net zero 2060 Indonesia, adopsi bahan bakar berkelanjutan dan efisiensi rantai pasok di sektor olahraga global bisa menjadi tolok ukur bagi penyelenggara event besar di Tanah Air, seperti MotoGP Mandalika atau ajang internasional lainnya. Penggunaan bahan bakar nabati dan pengelompokan jadwal geografis bisa diadaptasi untuk menekan emisi tanpa mengurangi daya tarik kompetisi.
F1 berkomitmen mengurangi emisi absolut minimal 50% pada 2030 dibanding level 2018, dengan sisa emisi yang tak terhindarkan akan diimbangi melalui program kredit karbon yang kredibel. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah F1 mempertahankan momentum ini di tengah ekspansi kalender dan jumlah balapan yang terus bertambah? Ataukah target ambisius itu akan terkendala oleh logistik global yang masih bergantung pada bahan bakar fosil?



