Morocco Buktikan Diri Layak Jadi Ancaman di Piala Dunia 2026 Usai Tahan Imbang Brasil
Baca dalam 60 detik
- Maroko memulai kampanye Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang 1-1 melawan Brasil, menunjukkan konsistensi performa sejak semifinal 2022.
- Pelatih Mohamed Ouahbi menegaskan timnya tidak puas hanya dengan semifinal dan ingin melangkah lebih jauh di edisi mendatang.
- Generasi muda Maroko, seperti Ayyoub Bouaddi dan Samir El Mourabet, mulai mengambil peran kunci di tengah regenerasi skuad.
Maroko memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil yang patut diacungi jempol: menahan imbang Brasil 1-1 di New York New Jersey Stadium. Hasil ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa Singa Atlas tidak berniat menjadi tim satu musim panas. Empat tahun setelah mengejutkan dunia dengan menembus semifinal di Qatar, Maroko kembali menunjukkan bahwa mereka layak diperhitungkan di panggung terbesar sepak bola.
Pertandingan tersebut memperlihatkan evolusi permainan Maroko. Jika di Piala Dunia 2022 mereka mengandalkan pertahanan kokoh dan serangan balik cepat, kini tim asuhan Mohamed Ouahbi tampil lebih matang. Tekanan tinggi sejak menit awal, penguasaan bola yang lebih percaya diri, dan transisi cepat menjadi senjata utama. Pelatih yang menggantikan Walid Regragui pada Maret lalu itu menilai timnya sudah menunjukkan kedewasaan taktis yang lebih baik.
Ouahbi tidak menyembunyikan ambisinya. โJika Anda menawari saya semifinal lagi seperti 2022, saya akan bilang saya ingin melangkah lebih jauh,โ ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Meski hanya meraih satu poin, ia puas dengan penerapan prinsip permainan timnya. Brasil sendiri, di bawah asuhan Carlo Ancelotti, mengakui kesulitan menghadapi agresivitas Maroko. โKami kehilangan banyak duel dan tidak bisa memegang bola,โ kata Ancelotti, menandai bahwa Maroko bukan lawan yang mudah.
Salah satu kunci performa Maroko adalah lini tengah yang solid. Ayyoub Bouaddi, gelandang Lille yang baru memulai karier internasionalnya kurang dari sebulan lalu, menjadi sorotan. Usianya yang baru 18 tahun tidak menghalanginya untuk tampil dewasa. Samir El Mourabet, yang masuk di babak kedua, memberikan energi baru. โIni laga yang emosional. Saya selalu bermimpi bermain di Piala Dunia, tetapi begitu di lapangan, Anda harus fokus dan memberikan segalanya,โ kata El Mourabet. Ia juga mengakui timnya bisa mencetak lebih banyak gol dan harus belajar dari peluang yang terbuang.
Regenerasi skuad Maroko berjalan mulus. Pemain seperti Yassine Bounou, Achraf Hakimi, dan Azzedine Ounahi masih menjadi tulang punggung, sementara generasi baru mulai mengambil alih peran dari Sofiane Boufal, Romain Saรฏss, dan Hakim Ziyech. Ouahbi memuji kedalaman skuadnya, termasuk pemain seperti Sofyan Amrabat yang siap tampil kapan pun dibutuhkan. Ia juga menyebut anggota tim U-20 yang juara dunia belum masuk skuad, menandakan masa depan cerah.
Bagi Indonesia, performa Maroko menjadi contoh bagaimana sebuah tim dari kawasan yang mungkin tidak diunggulkan bisa bersaing dengan raksasa. Dengan pendekatan taktis yang disiplin dan pengembangan pemain muda yang terencana, Maroko membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu soal sejarah atau anggaran besar. Pertanyaan selanjutnya: bisakah Maroko mempertahankan konsistensi ini hingga fase gugur? Atau akankah Brasil bangkit di laga berikutnya? Satu hal pasti, Singa Atlas telah mengirim pesan bahwa mereka bukan sekadar tim kejutan.



