Poyet Bongkar Resep Bielsa: Intensitas Jadi Senjata Uruguay di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gustavo Poyet menyebut Marcelo Bielsa telah mengubah wajah Uruguay dengan menekankan intensitas dan transisi cepat, bukan sekadar duel fisik.
- Eks gelandang Uruguay itu menilai tim mencapai puncak performa hanya dalam empat bulan, namun konsistensi terganggu cedera dan adaptasi pemain.
- Poyet memprediksi Uruguay akan mengandalkan Darwin Nunez dan Fede Valverde sebagai pembeda, meski Nunez minim menit bermain di klub.
Gustavo Poyet, legenda Uruguay yang turut membawa La Celeste juara Copa America 1995, membongkar pendekatan Marcelo Bielsa yang disebutnya telah menyuntikkan intensitas luar biasa ke dalam skuad berjuluk La Celeste. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Poyet mengungkapkan bahwa Bielsa tidak hanya mengubah taktik, tetapi juga mentalitas tim menjelang Piala Dunia 2026.
Menurut Poyet, Bielsa datang dengan filosofi yang jelas: permainan harus dimainkan dengan energi tinggi. โDia mengubah banyak hal demi mencari intensitas. Dulu Uruguay dikenal sebagai tim yang suka beradu fisik, sekarang mereka menekan ketat, merebut bola cepat, dan langsung melancarkan serangan vertikal,โ ujar Poyet. Ia menambahkan bahwa transisi dari permainan lambat ke cepat menjadi kunci kebangkitan Uruguay di bawah asuhan pelatih asal Argentina tersebut.
Namun, Poyet juga mengakui bahwa konsistensi menjadi tantangan. โKami mencapai puncak dalam empat bulan pertama. Setelah itu sulit dipertahankan, bukan hanya karena lawan mulai membaca permainan, tetapi juga karena pemain seperti Nicolas De la Cruz mengalami cedera atau kurang bermain setelah pindah ke Brasil,โ katanya. Ia menekankan bahwa pemain Uruguay memiliki karakter keras yang bisa menjadi kelebihan sekaligus kelemahan jika tidak dikelola dengan baik.
Poyet menyoroti dua pemain yang dianggapnya bisa menjadi pembeda: Federico Valverde dan Darwin Nunez. Mengenai Valverde, ia berharap pelatih memberikan kebebasan penuh. โDia bukan pemain yang perlu banyak belajar. Biarkan dia bermain bebas, jangan dibebani sebagai tulang punggung tim. Saya ingat saat dia bermain dengan Alexander-Arnold di kanan, dia mencetak gol dan sering melepaskan tembakan,โ kenang Poyet. Sementara untuk Nunez, Poyet memuji keberaniannya pindah ke Arab Saudi. โKeputusan itu tidak mudah. Dia bermain dan mencetak gol di Liverpool, lalu harus duduk karena aturan pemain asing. Tapi saya yakin dia akan memberikan segalanya di Piala Dunia,โ ujarnya.
Bagi pembaca di Indonesia, gaya bermain ala Bielsa yang mengedepankan pressing dan transisi cepat bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah membangun identitas sepak bola modern kerap menghadapi masalah konsistensi dan adaptasi pemain. Kasus Uruguay menunjukkan bahwa perubahan filosofi membutuhkan waktu dan kesabaran, namun hasilnya bisa signifikan jika semua elemen selaras. Selain itu, kisah Nunez yang rela meninggalkan Premier League demi menit bermain menjadi pengingat bahwa karier pemain tidak selalu linier.
Menatap Piala Dunia 2026, Poyet optimistis Uruguay bisa bersaing meski di atas kertas bukan favorit. โJika kami memenangkan dua pertandingan pertama, itu akan menjadi modal besar. Melawan Spanyol, kami harus bisa mengimbangi penguasaan bola mereka. Uruguay akan berusaha dengan cara apa pun โ bisa menjadi permainan indah dengan serangan balik, atau pertarungan sengit,โ pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah Bielsa mempertahankan intensitas tim hingga turnamen bergulir?



