Piala Dunia 2026: Delapan Laga Perdana Tak Ada yang Tepat Waktu, Ada Apa?
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata keterlambatan delapan pertandingan pertama Piala Dunia 2026 mencapai tiga menit, dengan laga pembuka Meksiko vs Afrika Selatan terlambat enam menit.
- FIFA memperluas seremoni pra-pertandingan, termasuk seluruh pemain berkumpul di lingkaran tengah saat lagu kebangsaan, yang dinilai lebih rumit dan berpotensi menyebabkan penundaan.
- Meski dianggap sepele, keterlambatan ini menjadi catatan FIFA untuk dievaluasi demi kelancaran siaran dan pengalaman penonton global.

Tak satu pun dari delapan pertandingan pertama Piala Dunia 2026 dimulai tepat waktu. Rata-rata keterlambatan mencapai tiga menit, dengan laga pembuka Meksiko versus Afrika Selatan menjadi yang paling parah: enam menit dari jadwal. Fenomena ini memicu pertanyaan soal efektivitas rangkaian seremoni yang kian meriah.
Pertandingan Grup C antara Haiti dan Skotlandia di Massachusetts, misalnya, tertunda dua setengah menit. Bagi suporter Skotlandia yang menanti 28 tahun untuk melihat timnya berlaga di Piala Dunia, keterlambatan itu mungkin tak berarti. Apalagi setelah kemenangan 1-0—kemenangan pertama mereka sejak Italia 1990—rasa puas pun mengalahkan kekesalan.
Namun, pola ini tetap menjadi sorotan. Dari delapan laga, hanya dua yang dimulai kurang dari satu menit dari jadwal: Australia vs Turki (40 detik) dan Korea Selatan vs Republik Ceko (51 detik). Sisanya, seperti Qatar vs Swiss, nyaris lima menit molor.
FIFA, yang biasanya merencanakan setiap detail hingga hitungan detik, tentu tak bisa mengabaikan masalah ini. Setiap pertandingan memiliki jadwal rinci yang dibagikan ke media, termasuk kapan tim dan ofisial berkumpul di lorong, kapan memasuki lapangan, hingga kapan lagu kebangsaan dikumandangkan. Informasi itu vital bagi penyiar, terutama yang menyisipkan iklan, agar tidak melewatkan momen krusial.
Dalam kasus Haiti vs Skotlandia, misalnya, kedua tim seharusnya memasuki lapangan tepat 8 menit 40 detik sebelum kick-off. Namun, pemain Haiti belum siap, dan kamera menangkap mereka dikejar-kejar petugas FIFA. Akibatnya, mereka terlambat 90 detik meninggalkan lorong, dan akhirnya memasuki lapangan hampir dua menit dari jadwal.
Laga-laga lain yang mengalami penundaan signifikan juga menunjukkan pola serupa: pemain terlambat masuk lapangan. Pertandingan tuan rumah Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat memang didahului upacara pembukaan, tetapi seremoni itu sudah selesai jauh sebelum kick-off dan seharusnya tidak menjadi masalah.
Faktor lain yang mungkin berkontribusi adalah keputusan FIFA memperluas kemeriahan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Kini, seluruh skuad—bukan hanya pemain inti—berkumpul di lingkaran tengah saat lagu kebangsaan, dengan bendera raksasa dibentangkan di setiap sisi lapangan. FIFA menyebut seremoni ini sebagai "momen persatuan, kebanggaan, dan emosi", tetapi pelaksanaannya lebih rumit.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola dan berencana menjadi tuan rumah turnamen internasional, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Penyelenggaraan acara besar menuntut koordinasi ketat antara panitia, tim, dan penyiar. Keterlambatan sekecil apa pun bisa berdampak pada jadwal siaran dan citra penyelenggara.
Seiring berjalannya turnamen, tim dan ofisial mungkin akan semakin terbiasa dengan rutinitas baru ini, sehingga proses bisa berjalan lebih mulus. Namun, ada kemungkinan FIFA sedikit meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk seremoni yang lebih megah. Pertanyaannya, akankah FIFA menyesuaikan jadwal atau justru memangkas durasi seremoni demi ketepatan waktu?



