Ancelotti Soroti Kecemasan Brasil Usai Imbang 1-1 Lawan Maroko di Debut Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengkritik penampilan tim yang terlalu gugup dan kehilangan banyak bola pada babak pertama saat ditahan Maroko 1-1.
- Hasil imbang ini menjadi sinyal peringatan bagi Brasil yang harus segera memperbaiki keseimbangan tim sebelum menghadapi Haiti dan Skotlandia.
- Ancelotti, yang debut sebagai pelatih kepala di Piala Dunia, menegaskan timnya akan berjuang di sisa laga grup untuk memastikan lolos.

Brasil harus puas berbagi angka dengan Maroko setelah laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 berakhir imbang 1-1 di MetLife Stadium, Sabtu (15/6). Pelatih Carlo Ancelotti secara blak-blakan mengakui bahwa anak asuhnya tampil di bawah tekanan dan kehilangan kendali permainan di babak pertama, meski akhirnya mampu menyamakan kedudukan melalui gol Vinicius Junior.
Ancelotti, yang untuk pertama kalinya memimpin tim Samba di ajang Piala Dunia, menilai bahwa kecemasan menjadi faktor utama yang membuat Brasil kesulitan mengembangkan permainan. "Tim terlalu gugup, banyak kehilangan bola, dan tidak ada keseimbangan di lapangan. Babak kedua jauh lebih baik," ujar pelatih asal Italia itu dalam konferensi pers usai pertandingan. Ia menambahkan bahwa masalah kehilangan penguasaan bola harus segera diperbaiki jika ingin bersaing di turnamen ini.
Gol pembuka Marocco dicetak oleh Ismael Saibari pada menit ke-28, memanfaatkan kelengahan lini belakang Brasil. Namun, Vinicius Junior berhasil menyamakan skor sebelum turun minum, memanfaatkan umpan matang dari Raphinha. Meski hasil akhir tidak buruk menurut Ancelotti, performa di babak pertama menjadi catatan serius. "Apa yang kami lakukan dengan baik di dua laga uji coba tidak berjalan mulus di babak pertama. Kami harus terus bekerja untuk memiliki tim yang lebih seimbang dan lebih agresif di depan," tegasnya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, hasil ini menjadi pengingat bahwa Brasil tidak lagi mendominasi seperti era sebelumnya. Tim Samba kini harus berjuang keras di dua laga sisa melawan Haiti (20 Juni) dan Skotlandia (25 Juni) untuk memastikan tempat di babak 16 besar. Ancelotti, yang pernah menjadi asisten pelatih Italia di Piala Dunia 1994, mengakui bahwa laga pertama selalu penuh kejutan. "Tim tidak akan sempurna di pertandingan pertama. Hasil ini tidak buruk, tapi kami akan bertarung di babak kedua," katanya.
Kritik Ancelotti terhadap kecemasan tim juga relevan dengan kondisi psikologis pemain muda Brasil yang mayoritas debutan di Piala Dunia. Dari sisi taktik, ia menekankan perlunya keseimbangan antara serangan dan pertahanan, serta pengambilan keputusan yang lebih tenang di area sendiri. Pertandingan melawan Haiti akan menjadi ujian nyata apakah perbaikan yang dijanjikan dapat terwujud.
Dengan jadwal padat dan tekanan publik yang tinggi, Ancelotti harus segera menemukan formula tepat. Pertanyaan besarnya: mampukah Brasil bangkit dan menunjukkan taringnya di sisa turnamen, atau justru akan tersingkir lebih awal seperti yang terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar?


