Buyback Saham MBMA Berakhir: Hanya Serap Rp237,61 Miliar dari Target Rp1,7 Triliun
Baca dalam 60 detik
- PT Merdeka Battery Materials Tbk. mengakhiri program buyback pada 16 Juni 2026, dengan total pembelian 492,68 juta saham senilai Rp237,61 miliar.
- Realisasi buyback hanya 14% dari target maksimal Rp1,7 triliun, mencerminkan keterbatasan likuiditas atau strategi hati-hati di tengah volatilitas pasar.
- Keputusan ini dinilai tidak berdampak material, namun investor perlu mencermati prospek bisnis nikel dan pergerakan harga saham MBMA ke depan.

PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) resmi menghentikan program pembelian kembali saham (buyback) setelah periode tiga bulan berakhir pada 16 Juni 2026. Emiten nikel ini hanya menyerap 492,68 juta saham atau setara Rp237,61 miliar, jauh dari target maksimal 1,8 miliar saham senilai Rp1,7 triliun yang dicanangkan pada Maret lalu.
Program buyback yang berlangsung sejak 17 Maret 2026 itu digelar dalam rangka merespons kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Namun, realisasi yang hanya mencapai sekitar 14% dari pagu maksimal menunjukkan bahwa manajemen MBMA memilih pendekatan konservatif. Sekretaris Perusahaan MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, dalam keterbukaan informasi menyatakan bahwa berakhirnya periode buyback tidak menimbulkan dampak material terhadap kondisi perseroan.
Keputusan untuk tidak memaksimalkan buyback bisa dimaknai sebagai sinyal bahwa manajemen melihat harga saham belum cukup atraktif untuk menyerap lebih banyak, atau mereka ingin menjaga kas untuk kebutuhan operasional dan ekspansi. Di sisi lain, langkah ini juga bisa diartikan bahwa tekanan jual di pasar tidak terlalu deras, sehingga intervensi besar tidak diperlukan.
Pada perdagangan sesi I hari ini, saham MBMA tercatat menguat 6,86% ke level Rp545 per saham. Meski demikian, secara year to date (ytd) saham emiten tambang nikel ini masih terkoreksi 5,26%. Pergerakan harga saham MBMA tak lepas dari sentimen industri nikel global, termasuk kebijakan hilirisasi di Indonesia dan fluktuasi harga nikel di pasar internasional.
Bagi investor di Indonesia, buyback yang tidak maksimal ini perlu dicermati sebagai indikasi bahwa manajemen belum yakin dengan valuasi saat ini atau mungkin tengah menyiapkan dana untuk akuisisi strategis. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah MBMA akan kembali menggelar buyback jika harga saham terus tertekan, atau justru akan fokus pada ekspansi bisnis di tengah persaingan industri baterai kendaraan listrik yang semakin ketat.



