Setahun Tragedi Air India: Keluarga Korban Masih Menanti Jawaban
Baca dalam 60 detik
- 260 orang tewas dalam kecelakaan Air India Boeing 787 di Ahmedabad setahun lalu, penyebab masih misteri.
- Investigasi awal mengindikasikan pemotongan aliran bahan bakar oleh pilot, namun keluarga pilot membantah.
- Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam investigasi kecelakaan penerbangan.

Setahun setelah Air India Boeing 787 jatuh di Ahmedabad, keluarga korban masih bergulat dengan duka dan kebingungan. Dalam sebuah upacara penuh haru di dekat lokasi kecelakaan, mereka berkumpul untuk berdoa dan menyalakan lilin, mengenang 260 jiwa yang melayang dalam tragedi penerbangan terburuk dunia dalam satu dekade terakhir.
Peringatan yang digelar di BJ Medical College itu dihadiri oleh politisi, pejabat pemerintah, dan tamu asing. Bangunan asrama mahasiswa yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat masih berdiri dengan bekas luka bakar, menjadi saksi bisu peristiwa nahas yang terjadi pada 12 Juni 2025. Pemerintah Gujarat berencana merobohkan dan membangun kembali asrama tersebut dengan pendanaan dari Tata Group, pemilik 75% saham Air India.
Bagi Suresh Patni, yang kehilangan putranya—seorang penjual teh—hari peringatan itu kembali membuka luka lama. “Saya tak percaya sudah setahun,” ujarnya, seraya mengaku keluarganya bertahan hidup berkat kompensasi dari Tata Trusts. Rasa sakit yang belum mereda juga dirasakan warga Ahmedabad lainnya, yang masih dihantui oleh suara ledakan dan kepanikan saat pesawat menghantam kompleks asrama.
Misteri penyebab kecelakaan masih menjadi teka-teki. Laporan awal yang dirilis tahun lalu mengungkapkan bahwa sakelar kontrol bahan bakar mesin bergerak hampir bersamaan dari posisi 'RUN' ke 'CUTOFF' tak lama setelah lepas landas, menyebabkan kedua mesin kekurangan bahan bakar. Rekaman percakapan kokpit antara dua pilot mendukung dugaan bahwa kapten sengaja memutus aliran bahan bakar, berdasarkan penilaian awal pejabat AS yang dilaporkan oleh Reuters. Namun, Biro Investigasi Kecelakaan Penerbangan India (AAIB) menegaskan saat itu bahwa “masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti.”
Keluarga pilot, Sumeet Sabharwal, yang tewas dalam kecelakaan itu, membantah keras tuduhan tersebut. Dalam wawancara dengan BBC, ayahnya, Pushkar Raj Sabharwal, menyatakan bahwa putranya adalah pilot berpengalaman dengan catatan keselamatan bersih. “Bagaimana Anda bisa menyalahkannya?” katanya, mempertanyakan logika di balik tuduhan yang belum terbukti. Pernyataan ini menambah dimensi emosional dalam investigasi yang sudah rumit.
Bagi Indonesia, tragedi Air India ini membawa pelajaran berharga. Sebagai negara dengan lalu lintas penerbangan yang padat dan riwayat kecelakaan pesawat, transparansi dan ketelitian dalam investigasi menjadi krusial. Kasus ini mengingatkan bahwa faktor manusia, teknis, dan sistemik harus diperiksa secara menyeluruh tanpa prasangka. Otoritas penerbangan Indonesia, seperti KNKT, dapat mengambil contoh dari proses investigasi yang berlarut-larut ini untuk memperkuat protokol keselamatan dan akuntabilitas.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah penyebab pasti kecelakaan terungkap? Ataukah keluarga korban harus terus hidup dalam ketidakpastian? Sementara itu, upaya rekonstruksi asrama dan pemberian kompensasi mungkin meringankan beban materi, namun luka emosional dan kebutuhan akan keadilan tetap menjadi prioritas yang belum terpenuhi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938373/original/066479600_1645165606-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-4.jpg)

