Kesepakatan Damai AS-Iran di Ambang Tanda Tangan, Selat Hormuz Kembali Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Washington dan Teheran sepakat pada draf awal perjanjian yang akan membuka kembali Selat Hormuz dan mencairkan aset Iran yang dibekukan.
- Kesepakatan ini memicu kontroversi di dalam negeri AS karena dianggap terlalu menguntungkan Iran, sementara Israel menolak terlibat.
- Jika terealisasi, perjanjian berpotensi menurunkan harga minyak global dan meredakan ketegangan di Timur Tengah, namun nasib program nuklir Iran masih menjadi tanda tanya.

Washington dan Teheran berada di ambang penandatanganan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan, dengan poin utama pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu. Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah menyetujui naskah perjanjian dan menargetkan penandatanganan dalam beberapa hari ke depan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam pernyataan di televisi pemerintah, menegaskan bahwa negaranya keluar sebagai pemenang dari konflik ini. โIran adalah pemenang perang dengan AS,โ ujarnya. Namun, hanya beberapa jam setelah pernyataan itu, pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone serang Iran yang mendekati Selat Hormuz, yang menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, drone itu mengancam lalu lintas komersial. Komando Pusat AS kemudian memastikan bahwa jalur air tersebut tetap terbuka untuk transit.
Draf perjanjian yang diperoleh Reuters dari berbagai sumber menggambarkan konsesi besar dari Washington. AS akan mencairkan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan dan menghapus sanksi ekspor minyak, sebagai imbalan pembukaan Selat Hormuz. Namun, pejabat AS membantah laporan yang menyebutkan bahwa kesepakatan itu terlalu memihak Iran. โTidak ada uang yang dilepaskan sampai mereka memenuhi kewajiban. Selat Hormuz akan dibuka. Tidak ada pendanaan Iran untuk kelompok teroris,โ kata pejabat tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan.
Isu paling krusial, yaitu program nuklir Iran, baru akan dibahas dalam masa perundingan 60 hari. Pejabat AS mengklaim kesepakatan pada akhirnya akan membongkar program nuklir Iran, termasuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi. Namun, Araghchi menyatakan bahwa Iran hanya bersedia menurunkan tingkat pengayaan uranium, bukan menghancurkannya. โBagi Teheran, satu-satunya solusi yang disukai untuk stok uranium yang diperkaya tinggi adalah menurunkan kadar material tersebut,โ katanya.
Israel, yang ikut melancarkan perang bersama AS, tidak dilibatkan dalam negosiasi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya tidak akan menjadi pihak dalam perjanjian ini. Netanyahu bahkan disebut berselisih dengan Trump dalam beberapa pekan terakhir karena desakan AS agar Israel menghentikan operasi militer di Lebanon demi memberi jalan bagi kesepakatan dengan Iran. Araghchi menyiratkan bahwa perjanjian ini akan mengakhiri perang di Lebanon, yang berarti penarikan pasukan Israel dari wilayah pendudukan. Namun, Menteri Pertahanan Israel menolak mundur, dan seorang pejabat senior Israel mengatakan mereka tetap ingin memiliki kebebasan bertindak terhadap ancaman di wilayah yang mereka kuasai.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati mengingat ketergantungan pada pasokan minyak global. Pembukaan Selat Hormuz berpotensi menurunkan harga minyak dan meredakan tekanan inflasi, namun ketidakpastian masih menyelimuti implementasi kesepakatan. Selain itu, sikap Israel yang menolak terlibat dapat memicu ketegangan baru di kawasan. Pertanyaan besarnya, akankah kesepakatan ini benar-benar mengakhiri konflik atau hanya menjadi gencatan senjata sementara sebelum pertempuran berikutnya?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257906/original/046395500_1781261859-maha1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260683/original/094118600_1781620436-1000535094.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260083/original/020996700_1781547406-Screenshot_2026-06-15_235101.jpg)
