Diskusi di UGM Ricuh, Wamen Sudaryono: Kami Datang untuk Dialog, Bukan Lari
Baca dalam 60 detik
- Dialog publik di UGM yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono berakhir ricuh setelah aksi pelemparan air dan dugaan pemukulan memaksa forum dihentikan.
- Sudaryono membantah tudingan kabur dari lokasi, mengaku justru kembali ke tengah mahasiswa untuk duduk bersila dan melanjutkan diskusi di aspal.
- Insiden ini menyoroti ketegangan antara pemerintah dan mahasiswa terkait isu agraria, dengan Sudaryono berjanji akan mengecek langsung setiap laporan penggusuran.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260083/original/020996700_1781547406-Screenshot_2026-06-15_235101.jpg)
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono harus mengakhiri diskusi dengan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada lebih awal setelah situasi berubah ricuh, Senin (15/6/2026) malam. Acara yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM itu sedianya menjadi forum terbuka antara pemerintah dan civitas akademika, namun berujung pada aksi pelemparan air dan dugaan pemukulan terhadap sang wamen.
Sudaryono yang hadir bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid serta politikus Budiman Sudjatmiko langsung menjadi sasaran protes mahasiswa. Dalam klarifikasinya seusai insiden, Sudaryono menegaskan bahwa kedatangannya ke kampus bukan untuk menghindari kritik, melainkan justru membuka ruang dialog seluas-luasnya. “Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, forum sempat berjalan selama 30 hingga 40 menit sebelum sekelompok peserta meminta diskusi dihentikan. Ia mengaku tetap bertahan di lokasi karena meyakini dialog adalah jalan terbaik menyelesaikan perbedaan. Namun, setelah terjadi pelemparan air dan dugaan pukulan, pihak keamanan menyarankan rombongan meninggalkan tempat. “Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga,” katanya.
Yang menarik, Sudaryono membantah keras anggapan bahwa ia dan rombongan kabur meninggalkan lokasi. Ia mengklaim justru kembali ke tengah mahasiswa setelah mobilnya dicegat. “Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi bantahan atas narasi bahwa pejabat enggan berhadapan dengan massa.
Dalam diskusi spontan yang berlangsung di aspal tersebut, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait isu pertanahan dan dugaan penggusuran. Sudaryono merespons dengan menawarkan verifikasi langsung. “Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya,” ujarnya. Sikap ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani keluhan masyarakat, setidaknya di atas kertas.
Bagi pembaca Indonesia, insiden ini menjadi cermin hubungan antara eksekutif dan mahasiswa yang kerap diwarnai ketegangan. Di era Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mengklaim terbuka terhadap kritik. Namun, ricuhnya forum di UGM mempertanyakan sejauh mana ruang dialog benar-benar berjalan tanpa hambatan. Apakah aksi protes mahasiswa merupakan ekspresi demokrasi yang wajar, atau justru mengancam esensi diskusi itu sendiri?
Sudaryono sendiri telah menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang hadir dengan niat baik namun tidak bisa mengikuti forum secara optimal. Ia menyatakan kesiapan untuk diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. “Yang penting kita berdiskusi,” katanya. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah insiden ini akan menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk menjaga etika berdemokrasi, atau justru memperlebar jurang antara pemerintah dan mahasiswa?



