Wali Kota London: Keragaman adalah Senjata Rahasia di Tengah Krisis
Baca dalam 60 detik
- London meraih Lee Kuan Yew World City Prize 2025 berkat kemampuan beradaptasi dan transformasi perkotaan.
- Wali Kota Sadiq Khan menekankan bahwa warga London yang beragam menjadi kunci ketahanan kota menghadapi Brexit, pandemi, dan tekanan biaya hidup.
- Khan mempelajari model perumahan publik Singapura untuk mengatasi krisis keterjangkauan hunian di London.

Di tengah gejolak politik dan ekonomi yang melanda Eropa, London tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu kota paling berpengaruh di dunia. Wali Kota Sadiq Khan menyebut keragaman warganya sebagai 'senjata rahasia' yang membuat ibu kota Inggris itu mampu bertahan dan terus berkembang.
Pernyataan itu disampaikan Khan di sela-sela World Cities Summit di Singapura, Senin (15/6), tak lama setelah London dianugerahi Lee Kuan Yew World City Prize 2025. Penghargaan ini diberikan atas kemampuan luar biasa kota tersebut dalam menciptakan perubahan transformasional di tengah kepadatan penduduk yang ekstrem.
Selama satu dekade memimpin London, Khan menghadapi berbagai ujian berat: Brexit yang memecah belah, pandemi COVID-19 yang melumpuhkan, serta pergantian enam perdana menteri Inggris. Namun, menurutnya, semua itu bisa dilewati berkat karakter warga London yang tangguh dan terbuka.
"Kekuatan terbesar kami adalah warga London. Mereka adalah aset yang tidak tergantikan," ujar Khan dalam wawancara dengan CNA. Ia mencontohkan investasi di bidang udara bersih, program makan siang gratis di sekolah, dan proyek regenerasi perkotaan sebagai bukti adaptasi London terhadap tantangan.
Salah satu isu paling mendesak yang dibahas dalam World Cities Summit adalah keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keterjangkauan. Banyak kota global, termasuk London, menghadapi lonjakan biaya perumahan dan tekanan biaya hidup yang membuat warganya terpinggirkan. Khan menegaskan bahwa pemimpin kota seringkali lebih responsif dibandingkan pemimpin nasional dalam mengatasi masalah ini.
"Dengan hormat, saya menyebut perdana menteri dan presiden sebagai 'penunda'. Sedangkan wali kota adalah 'pelaksana'," kata Khan. Ia menambahkan bahwa untuk menjaga daya tarik kota, pemerintah harus memastikan perumahan dan transportasi tetap terjangkau, terutama bagi generasi muda yang menjadi tulang punggung perkotaan.
Dalam kunjungannya ke Singapura, Khan secara khusus mempelajari model perumahan publik negara kota tersebut. "Apa yang dilakukan Singapura dengan sangat baik adalah cara mereka menangani tantangan perumahan melalui peran negara," ujarnya. London berencana mengadopsi beberapa praktik terbaik dari Singapura untuk meningkatkan pasokan rumah terjangkau.
Khan juga melontarkan kritik terhadap sentimen anti-imigrasi yang muncul di sebagian wilayah Inggris. Menurutnya, politisi seringkali memainkan ketakutan publik alih-alih menyelesaikan akar masalah seperti kurangnya investasi di sektor perumahan dan kesehatan. "Kekurangan rumah atau layanan kesehatan yang layak bukanlah kesalahan imigran. Itu karena kita tidak berinvestasi di bidang-bidang ini," tegasnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kecenderungan isolasionisme di beberapa negara, Khan tetap optimis bahwa keterbukaan adalah kunci keunggulan kota global. Ia menyamakan London dengan Singapura: sama-sama berorientasi ke luar, wirausaha, dan beragam. "Keragaman kami adalah kekuatan, bukan kelemahan. Itu membuat kami lebih kuat, bukan lebih lemah; lebih kaya, bukan lebih miskin," pungkasnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah model perumahan Singapura yang terpusat dan intervensi negara yang kuat diadaptasi di London yang menganut pasar bebas? Atau justru pendekatan hibrid yang lebih cocok? Jawabannya akan menentukan apakah London bisa terus menjadi kota impian bagi generasi mendatang.



