Kaisar Jepang Kunjungi Belanda dan Belgia: Misinya Menjembatani Luka Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako memulai kunjungan kenegaraan selama dua pekan ke Belanda dan Belgia, kunjungan resmi keempat sejak naik takhta.
- Dalam lawatan ini, Kaisar secara eksplisit merujuk pada pendudukan Jepang di Hindia Belanda (kini Indonesia) dan berharap tidak melupakan pahitnya masa lalu.
- Kunjungan ini menjadi ajang mempererat hubungan diplomatik, sekaligus pengingat akan sejarah kelam yang masih membekas di kedua negara Eropa.

Kaisar Jepang Naruhito bersama Permaisuri Masako bertolak dari Tokyo pada Sabtu (14/6) menuju Belanda dan Belgia dalam rangka kunjungan kenegaraan selama kurang lebih dua pekan. Ini menjadi lawatan resmi keempat pasangan kekaisaran sejak Naruhito naik takhta pada 2019, dengan agenda utama mempererat hubungan persahabatan dan diplomasi budaya.
Kunjungan ini terbilang istimewa karena merupakan pertama kalinya dalam 13 tahun Kaisar Jepang menginjakkan kaki di Belanda, dan 27 tahun untuk Belgia. Rangkaian acara dimulai di Amsterdam, di mana Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima akan menyambut mereka dengan upacara resmi dan jamuan kenegaraan. Pasangan kekaisaran juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Belanda Rob Jetten serta mengunjungi parlemen di Den Haag.
Namun, yang menarik perhatian adalah pernyataan Kaisar Naruhito dalam konferensi pers sebelum keberangkatan. Ia menekankan pentingnya mengingat pahitnya masa lalu meski hubungan bilateral kini berlangsung hangat. โKami berharap kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperdalam persahabatan dengan rakyat kedua negara. Meski hubungan kini bersahabat, kita tidak boleh melupakan kesulitan masa lalu,โ ujarnya, merujuk pada invasi dan pendudukan Jepang di Hindia Belanda (kini Indonesia) selama Perang Dunia II. Kaisar juga menyatakan ingin menyampaikan simpati kepada warga Belanda yang masih menderita akibat kenangan perang.
Bagi Indonesia, pernyataan Kaisar Naruhito memiliki resonansi khusus. Hindia Belanda yang disebutnya adalah wilayah yang kini menjadi Indonesia, dan pendudukan Jepang (1942โ1945) meninggalkan luka mendalam, termasuk praktik romusha dan kekerasan terhadap penduduk sipil. Meski Jepang telah menyampaikan permintaan maaf resmi pada 1990-an, isu ini masih sensitif. Kunjungan ini mengingatkan bahwa rekonsiliasi historis tetap menjadi pekerjaan rumah bagi hubungan Jepang dengan negara-negara bekas jajahannya.
Setelah agenda di Belanda, pasangan kekaisaran akan melanjutkan perjalanan ke Brussel pada 20 Juni. Tahun ini menandai 160 tahun hubungan diplomatik Jepang-Belgia, menjadikan kunjungan ini sebagai puncak perayaan. Raja Philippe dan Ratu Mathilde akan menjadi tuan rumah. Kaisar dan Permaisuri dijadwalkan meninggalkan Belgia pada 25 Juni dan tiba kembali di Jepang keesokan harinya.
Ke depannya, lawatan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ujian bagi diplomasi Jepang dalam menyeimbangkan citra modern dengan tanggung jawab sejarah. Akankah pengakuan terbuka Kaisar atas masa lalu mampu memperkuat kepercayaan mitra Eropa, atau justru membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260115/original/042535500_1781572172-e7e55dbb-f9eb-4268-befb-dd8b6596fa38.jpg)
