Tabrakan di Perairan Pasir Panjang: Tiga Awak Kapal Pasok Tewas
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan laut di lepas Terminal Pasir Panjang, Singapura, menewaskan tiga awak kapal pasok setelah bertabrakan dengan kapal pendarat.
- Otoritas maritim setempat segera mengerahkan tim SAR gabungan, namun tiga korban ditemukan tewas di perairan.
- Insiden ini tidak mengganggu operasional pelabuhan, namun menyoroti risiko keselamatan pelayaran di jalur sibuk Selat Singapura.

Tiga orang yang diduga awak kapal pasok tewas setelah kapal mereka tenggelam akibat bertabrakan dengan kapal pendarat di lepas Terminal Pasir Panjang, Singapura, Jumat pagi. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) mengonfirmasi insiden ini dalam pernyataan resmi yang dirilis beberapa jam setelah kejadian.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat, memicu respons cepat dari MPA, Polisi Maritim (PCG), dan Divisi Kelautan Pasukan Pertahanan Sipil Singapura. Tim gabungan dikerahkan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan. Dalam operasi tersebut, PCG berhasil menemukan tiga jenazah di perairan, yang diyakini sebagai awak kapal pasok yang tenggelam. Sementara itu, tidak ada laporan korban luka dari kapal pendarat yang terlibat tabrakan.
MPA menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan, termasuk penyelaman, masih berlangsung untuk memastikan tidak ada awak kapal lain yang hilang. Pihak berwenang juga telah mengeluarkan pemberitahuan navigasi kepada kapal-kapal di sekitar lokasi untuk menghindari area kejadian. Meskipun demikian, aktivitas pelabuhan di Terminal Pasir Panjang tidak terganggu.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko keselamatan di perairan sibuk Selat Singapura, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Meskipun otoritas setempat memiliki prosedur keselamatan yang ketat, tabrakan antar kapal masih kerap terjadi. Bagi Indonesia, yang berbagi perairan dengan Singapura, kejadian ini relevan mengingat banyak kapal Indonesia yang melintasi atau beroperasi di wilayah tersebut. Pelaku industri pelayaran nasional perlu meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kepatuhan terhadap protokol keselamatan.
Menurut analis maritim, faktor human error dan kepadatan lalu lintas laut sering menjadi penyebab utama kecelakaan serupa. Mereka mendorong otoritas regional untuk memperkuat sistem pemantauan dan komunikasi antar kapal. Pertanyaan yang muncul kini adalah apakah langkah-langkah pencegahan yang ada sudah cukup untuk mengurangi risiko di masa depan, terutama dengan meningkatnya volume pelayaran di kawasan Asia Tenggara.