Aktris Legendaris Jepang Tamao Nakamura Tutup Usia di 86 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Tamao Nakamura, aktris senior Jepang yang dikenal lewat drama sejarah dan komedi, meninggal dunia akibat pneumonia di Tokyo.
- Lahir dari keluarga Kabuki ternama, ia memulai debut film saat SMP dan meraih penghargaan Aktris Pendukung Terbaik Blue Ribbon pada 1960.
- Kehidupannya yang penuh dinamika, termasuk mendampingi suami aktor Shintaro Katsu di masa sulit, membuatnya dicintai publik hingga akhir hayat.

Dunia perfilman Jepang kehilangan salah satu ikonnya. Tamao Nakamura, aktris yang namanya melekat lewat puluhan drama sejarah dan lawakan khasnya di layar kaca, mengembuskan napas terakhir di usia 86 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh agensinya, Nagara Production, Jumat lalu.
Nakamura meninggal karena pneumonia di Tokyo pada Selasa pekan ini. Ia dikenal sebagai figur yang langka: lahir dari keluarga besar Kabuki—ayahnya adalah Nakamura Ganjiro II—namun justru memilih jalur film dan televisi. Debutnya terjadi pada 1953, saat ia masih duduk di bangku kelas dua SMP. Langkah awal itu menjadi pintu masuk ke industri hiburan yang akan membesarkan namanya.
Sepanjang karier, Nakamura tercatat membintangi sejumlah karya monumental. Ia beradu peran dengan Ichikawa Raizo—bintang Kabuki dan film—dalam dua film klasik garapan sutradara legendaris Kon Ichikawa: Conflagration (1958) yang diadaptasi dari novel Yukio Mishima, dan Bonchi. Atas perannya di Bonchi dan Daibosatsu Toge, ia dianugerahi penghargaan Aktris Pendukung Terbaik Blue Ribbon pada 1960—sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisinya di jajaran aktris papan atas.
Dua tahun setelah puncak prestasinya, Nakamura menikah dengan Shintaro Katsu, aktor yang dikenal lewat serial Zatoichi. Pernikahan itu bukan tanpa ujian. Katsu sempat mengalami kebangkrutan perusahaan produksi filmnya dan beberapa kali ditangkap karena kepemilikan narkoba. Nakamura tetap setia mendampingi, sebuah kisah yang kerap dibicarakan media sebagai bukti ketangguhannya di balik layar.
Di usia senja, Nakamura justru menemukan popularitas baru. Ia rajin tampil di acara-acara televisi dan menjadi favorit berkat kepribadiannya yang rendah hati dan ceplas-ceplos. Gaya bicaranya yang lugas dan humoris membuatnya terasa dekat dengan pemirsa, berbeda dari citra formal yang melekat pada aktris seusianya.
Bagi penggemar budaya pop Jepang di Indonesia, kepergian Nakamura menandai berakhirnya satu era. Ia adalah representasi aktris yang mampu bertransisi dari panggung tradisional Kabuki ke layar lebar, lalu ke televisi modern—sebuah fleksibilitas yang jarang ditemukan. Warisannya tidak hanya pada film-film klasik yang masih diputar di festival, tetapi juga pada cara ia menjalani hidup: penuh perjuangan, setia pada pasangan, dan tetap rendah hati meski namanya harum.
Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah industri hiburan Jepang melahirkan lagi figur sekaliber Nakamura—yang tak hanya berbakat, tetapi juga memiliki ketahanan pribadi dan kedekatan emosional dengan publik? Ataukah sosok seperti dia adalah produk dari zaman yang tak akan terulang?



