Saham Nintendo Anjlok 40% Sejak Switch 2 Dirilis, Harga Konsol Naik
Baca dalam 60 detik
- Nintendo kehilangan hampir 6,8% nilai saham dalam sehari setelah Nintendo Direct, dengan total penurunan 40,40% sejak Switch 2 meluncur Juni 2025.
- Investor mendesak kenaikan harga Switch 2 mulai September 2026, yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasar Indonesia.
- Pengumuman game baru seperti Zelda: Ocarina of Time gagal membendung kekhawatiran pasar terhadap prospek pendapatan Nintendo.

Nintendo harus menelan pil pahit setelah gelaran Nintendo Direct pekan ini. Meski merilis sejumlah judul besar seperti The Legend of Zelda: Ocarina of Time, Xenoblade Genesis, dan Nintendo Switch Sports Resort, pasar justru bereaksi negatif. Saham perusahaan asal Jepang itu ambrol hingga 6,8% dalam 24 jam, memperpanjang tren penurunan yang sudah berlangsung sejak konsol terbarunya, Switch 2, meluncur pada Juni 2025.
Sejak debut Switch 2, nilai saham Nintendo telah tergerus hingga 40,40%. Kini, satu lembar sahamnya diperdagangkan di ¥7.215 atau setara sekitar €39. Penurunan ini mencerminkan skeptisisme investor terhadap strategi bisnis Nintendo, terutama di tengah persaingan ketat dengan PlayStation dan Xbox yang gencar menghadirkan layanan berlangganan dan game eksklusif.
Yang menarik, tekanan investor justru mendorong Nintendo untuk menaikkan harga Switch 2 mulai 1 September 2026. Langkah ini kontras dengan ekspektasi bahwa penurunan harga lazim dilakukan untuk memperluas basis konsumen. Analis menilai keputusan ini bisa menjadi bumerang, terutama di pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana daya beli konsumen masih sensitif terhadap perubahan harga.
Bagi gamer Indonesia, kenaikan harga Switch 2 berpotensi membuat konsol tersebut semakin sulit dijangkau. Saat ini, Switch 2 sudah dibanderol sekitar Rp7–8 juta di pasar lokal. Jika harga naik, gap dengan konsol kompetitor seperti PlayStation 5 atau Xbox Series X/S yang kerap menawarkan diskon akan semakin lebar. Belum lagi, game-game Nintendo jarang turun harga, sehingga total biaya kepemilikan menjadi tinggi.
Di sisi lain, pengumuman game baru seperti Zelda: Ocarina of Time seharusnya menjadi angin segar. Namun, pasar menilai bahwa judul-judul tersebut tidak cukup inovatif untuk mendorong penjualan konsol secara signifikan. “Nintendo perlu menghadirkan terobosan, bukan sekadar remaster atau port,” ujar seorang analis industri yang enggan disebut namanya. “Investor ingin melihat pertumbuhan pendapatan dari layanan digital atau ekspansi ke sektor lain, bukan hanya mengandalkan penjualan perangkat keras.”
Ke depan, Nintendo dihadapkan pada dilema: menaikkan harga untuk menjaga margin keuntungan, atau menurunkan harga demi meraih pangsa pasar. Jika tren penurunan saham berlanjut, bukan tidak mungkin perusahaan akan merevisi strateginya. Pertanyaan besarnya, apakah gamer setia Nintendo akan tetap bertahan jika harga terus naik?



