Asobo Studio Tolak AI Demi Jaga Orisinalitas Game: Pelajaran bagi Industri Gim Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Asobo Studio memastikan tidak menggunakan generative AI dalam pengembangan Resonance: A Plague Tale Legacy, berbeda dengan tren industri saat ini.
- Keputusan ini didasari kekhawatiran bahwa AI dapat mengancam keunikan setting, karakter, dan arahan artistik yang menjadi ciri khas gim mereka.
- Sikap Asobo menjadi contoh bagi pengembang gim di Indonesia untuk memprioritaskan kreativitas manusia di tengah maraknya adopsi AI.

Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif dalam industri gim, Asobo Studio justru mengambil langkah kontras dengan menolak keras teknologi tersebut dalam pengembangan Resonance: A Plague Tale Legacy. Gim yang dijadwalkan rilis pada 27 Agustus 2026 untuk PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan PC ini menjadi bukti bahwa orisinalitas masih bisa dipertahankan tanpa bantuan AI.
Keputusan ini diungkapkan langsung oleh produser Eric Chort dalam wawancara dengan Eurogamer. Menurut Chort, tim yang hanya beranggotakan 70 orang itu secara sadar memilih untuk tidak menggunakan generative AI. โKami tidak menggunakannya; kami tidak mau. Ini adalah pilihan,โ tegasnya. Ia menambahkan bahwa kesuksesan gim-gim Asobo selama ini justru berasal dari orisinalitas, latar unik, karakter khas, serta arahan artistik yang autentikโsemua elemen yang menurutnya terancam oleh kehadiran AI.
Chort juga menekankan bahwa AI bukanlah solusi bagi tim kecil. Sebaliknya, Asobo lebih memilih pendekatan cerdas dalam desain, seperti mempertahankan formula linier ketimbang memaksakan kompleksitas dunia terbuka. โKami lebih memilih tidak menggunakannya sama sekali dan menjaga kreativitas kami,โ ujarnya. Ia menyebut studio sebagai โkeluargaโ yang dihuni oleh veteran dan talenta muda, sehingga perekrutan sumber daya manusia menjadi prioritas utama.
Pernyataan Chort muncul di saat industri gim global mulai terbelah antara yang mengadopsi AI untuk efisiensi dan yang menolaknya demi menjaga sentuhan artistik. Beberapa pengembang besar seperti Ubisoft dan Electronic Arts telah bereksperimen dengan AI untuk pembuatan aset dan dialog, sementara studio independen kerap mengandalkan AI untuk menekan biaya. Namun, Asobo justru melihat AI sebagai ancaman terhadap keunikan yang selama ini menjadi daya tarik utama gim mereka.
Keputusan Asobo ini relevan untuk dicermati oleh industri gim Indonesia yang tengah berkembang. Banyak studio lokal, seperti Toge Productions atau Mojiken Studio, justru mengandalkan orisinalitas cerita dan seni untuk menembus pasar global. Jika adopsi AI dilakukan tanpa kendali, bukan tidak mungkin ciri khas tersebut tergerus. Di sisi lain, AI juga bisa menjadi alat bantu bagi tim kecil untuk bersaing, selama tidak mengorbankan identitas kreatif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah pengembang gim Indonesia meniru jejak Asobo dengan mempertahankan kreativitas manusia di tengah tekanan efisiensi? Atau justru sebaliknya, AI akan menjadi kunci untuk melompat ke kancah internasional? Jawabannya mungkin akan menentukan arah industri gim Tanah Air dalam satu dekade ke depan.



