Amina Orfi Ukir Sejarah: Juara British Open Squash Termuda di Usia 18 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pemain squash Mesir Amina Orfi menjadi juara termuda British Open putri sepanjang sejarah, memecahkan rekor 94 tahun.
- Kemenangan ini diraih hanya sebulan setelah ia menjadi juara dunia termuda, menandai dominasi generasi baru di squash putri.
- Di nomor putra, Paul Coll dari Selandia Baru merebut gelar ketiganya setelah lawan kelelahan akibat semifinal marathon.

Remaja berusia 18 tahun asal Mesir, Amina Orfi, mencatatkan namanya dalam buku rekor squash dunia setelah menjuarai British Open putri, Minggu (19/5) di Birmingham. Kemenangan 3-1 atas rekan senegaranya, Nour ElSherbini, menjadikannya pemain termuda yang pernah mengangkat trofi bergengsi tersebut, menggeser rekor Susan Noel yang bertahan sejak 1932.
Orfi, yang baru saja dinobatkan sebagai juara dunia termuda bulan lalu, menunjukkan ketangguhan mental luar biasa. Tertinggal 0-1 di awal pertandingan, ia bangkit merebut tiga gim berikutnya dengan skor 7-11, 11-8, 11-5, 11-8. Kemenangan ini terasa istimewa karena sehari sebelumnya ia harus menjalani laga terpanjang dalam sejarah British Open putri—110 menit—untuk mengalahkan unggulan pertama Hania El Hammamy.
Pencapaian Orfi menandai perubahan generasi di squash putri. Dalam dua bulan terakhir, ia sukses mengalahkan ElSherbini dua kali di final bergengsi, menunjukkan bahwa peta kekuatan mulai bergeser. "Saya sangat senang dengan dua hasil ini setelah kejuaraan dunia. Saya sangat lelah, tapi ini pertandingan yang hebat," ujar Orfi usai laga.
Di nomor putra, Paul Coll dari Selandia Baru meraih gelar British Open ketiganya setelah lawannya, Mostafa Asal, menyerah di awal gim keempat. Asal, yang merupakan juara dunia dan unggulan pertama, tampak kelelahan setelah menjalani semifinal 115 menit sehari sebelumnya. Coll mengakui strateginya memanfaatkan kelemahan fisik lawan. "Mostafa menjalani pertandingan brutal kemarin, tapi saya harus mengalahkannya hari ini, membuatnya kesakitan, dan saya sangat puas dengan penampilan ini," kata Coll yang kini mengoleksi 33 gelar PSA Tour.
Bagi penggemar squash di Indonesia, prestasi Orfi menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah hambatan untuk bersaing di level tertinggi. Meskipun squash belum sepopuler bulu tangkis di Tanah Air, torehan atlet muda seperti Orfi bisa mendorong minat generasi muda untuk menekuni olahraga raket ini. Federasi Squash Indonesia (Forsi) diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan pembinaan usia dini.
Musim PSA Squash Tour akan ditutup dengan ajang Tour Finals di Paris pada 17-20 Juni. Pertanyaan besarnya: mampukah Orfi mempertahankan performa dan menambah gelar di musim debutnya yang sensasional? Atau akankah ElSherbini dan El Hammamy bangkit kembali? Satu hal pasti, persaingan squash putri semakin menarik untuk diikuti.



