Rupiah Tembus Rp18.050 per Dolar AS: Tekanan Global dan Harapan Sinyal Domestik
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,22% ke level Rp18.050 per dolar AS pada Senin (8/6/2026), melanjutkan volatilitas akibat data tenaga kerja AS yang kuat dan ketegangan geopolitik.
- Indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di atas 100 meski sedikit melemah, membatasi ruang penguatan mata uang Asia termasuk rupiah.
- Pertemuan DPR, BI, dan pemerintah akhir pekan lalu diharapkan memberikan sinyal koordinasi fiskal-moneter, namun efektivitasnya masih menunggu langkah konkret.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok ke level psikologis Rp18.050 pada pembukaan perdagangan Senin (8/6/2026), menandai tekanan berkelanjutan di tengah kuatnya greenback dan ketidakpastian global. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terkoreksi 0,22% dari posisi penutupan akhir pekan lalu di Rp18.010, memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Pelemahan rupiah terjadi di saat indeks dolar AS (DXY) masih bertengger di level tinggi, meski pagi ini terpantau sedikit melemah 0,07% ke 99,998. Pada perdagangan Jumat lalu, DXY melonjak 0,66% dan kembali menembus angka 100, didorong oleh data tenaga kerja AS periode Mei yang lebih kuat dari ekspektasi. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikkan suku bunga lagi, sebuah skenario yang biasanya mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia.
Selain faktor moneter, dolar AS juga diuntungkan oleh permintaan aset safe haven akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai kesepakatan damai sementara belum menunjukkan kemajuan signifikan, sementara konflik Israel-Hizbullah di Lebanon terus berlangsung. Iran dikabarkan tetap menuntut gencatan senjata di Lebanon sebelum menerima tawaran AS untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Situasi ini menambah ketidakpastian pasar dan memperkuat posisi dolar.
Di tengah tekanan eksternal, pasar domestik mencermati langkah otoritas keuangan. Akhir pekan lalu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menginisiasi pertemuan antara DPR, Bank Indonesia, dan pemerintah di Kompleks Parlemen Senayan. Pertemuan itu bertujuan memperkuat sinergi fiskal dan moneter guna meredam gejolak rupiah. βKami berkumpul untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi dan memperkuat koordinasi,β ujar Dasco dalam konferensi pers, seperti dikutip dari pernyataan resmi.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertemuan tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi rupiah, namun dampaknya lebih bersifat menahan tekanan ketimbang membalikkan arah secara signifikan. Menurut Josua, komitmen untuk menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah dan memastikan likuiditas dapat meredakan kekhawatiran jangka pendek. βNamun, penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada apakah komitmen tersebut segera diikuti langkah nyata, bukan hanya pernyataan bersama,β tegasnya.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, pergerakan rupiah kali ini menjadi ujian kredibilitas koordinasi kebijakan. Investor asing dan domestik akan mencermati apakah sinyal dari pertemuan DPR-BI-pemerintah akan diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret, seperti intervensi pasar atau penyesuaian instrumen moneter. Tanpa aksi nyata, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan dominasi dolar AS yang didukung data ekonomi AS yang solid dan ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini serta perkembangan pembicaraan damai AS-Iran. Apakah koordinasi domestik cukup kuat untuk menahan arus keluar modal, atau justru diperlukan langkah yang lebih agresif? Jawabannya akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah level Rp18.100 atau justru terjerembab lebih dalam.



