Rekor 40 Kemenangan Putus: Duplantis Takluk di Depan Publik Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Armand Duplantis gagal mempertahankan rekor kemenangan beruntunnya setelah dikalahkan Kurtis Marschall di Stockholm Diamond League.
- Kekalahan ini terjadi di tengah persiapan pernikahan Duplantis, yang mengaku sedikit terdistraksi oleh momen bahagia tersebut.
- Marschall mencatat lompatan 5,90 meter, sementara Duplantis gagal melewati 6 meter untuk pertama kalinya dalam 40 pertandingan.
Rekor fantastis Armand Duplantis akhirnya terhenti. Pelompat galah Swedia yang mendominasi lintasan atletik dunia selama 40 pertandingan berturut-turut harus mengakui keunggulan Kurtis Marschall dari Australia di Stockholm Diamond League, Minggu (7/6). Marschall memastikan kemenangan setelah berhasil melompat setinggi 5,90 meter pada percobaan ketiga, sementara Duplantis justru gagal di ketinggian yang sama.
Kekalahan ini menjadi kejutan besar, terutama karena terjadi di hadapan pendukung sendiri. Duplantis, yang dikenal sebagai pemecah rekor dunia dengan lompatan tertinggi 6,31 meter, tampak kesulitan sejak awal. Ia gagal pada percobaan pertama di ketinggian 5,60 meter, dan meskipun berhasil melewati 5,80 meter, ia tidak mampu menaklukkan 6,00 meter. Upaya terakhirnya di 6,05 meter juga gagal, membuatnya harus puas di posisi kedua.
Menariknya, Duplantis sendiri mengakui bahwa pikirannya sedikit terbagi. Dalam wawancara dengan penyiar Swedia SVT, ia berkelakar bahwa kekalahan ini mungkin berkaitan dengan persiapan pernikahannya yang tinggal sebentar lagi. "Kamu beruntung dalam cinta atau beruntung dalam hidup. Pernikahan sudah dekat, jadi mungkin ini adalah sisi positif dari semuanya," ujarnya. Meski demikian, ia menyesalkan penampilan buruk di Stockholm, kota yang sangat ia cintai dan dukung oleh banyak penggemar.
"Ini saatnya kalah, sudah sangat lama sejak terakhir kali. Saya tidak percaya bisa menang 40 kali berturut-turut, itu gila. Tapi juga gila bahwa saya kalah di Stockholm, kompetisi terpenting tahun ini bagi saya," tambah Duplantis. Ia berjanji akan memastikan kekalahan serupa tidak terulang lagi di masa depan.
Bagi Indonesia, prestasi Duplantis mungkin terasa jauh, namun konsistensi dan tekanan mental yang dihadapinya relevan dengan dunia olahraga Tanah Air. Atlet Indonesia sering menghadapi ekspektasi tinggi di ajang internasional, dan kemampuan mengelola tekanan—termasuk urusan pribadi—menjadi kunci. Kasus Duplantis mengingatkan bahwa bahkan atlet terbaik pun bisa goyah, dan dukungan publik tidak selalu menjamin kemenangan.
Sementara itu, di nomor lain, Melissa Jefferson Wooden memenangi 100 meter putri dengan catatan waktu 10,84 detik. Kenny Bednarek menjadi satu-satunya pelari yang menembus 20 detik di 200 meter putra (19,87 detik). Penampilan menonjol juga ditunjukkan remaja Amerika Cooper Lutkenhaus, 17 tahun, yang memenangi 800 meter putra dengan waktu terbaik musim ini 1:42,70.
Kekalahan Duplantis membuka pertanyaan: mampukah ia bangkit kembali dan mempertahankan dominasinya di kejuaraan mendatang? Ataukah ini awal dari era baru persaingan di nomor lompat galah? Publik atletik dunia menanti jawabannya.



