Pernikahan Mewah Dua Lipa Picu Protes Warga Palermo: Elton John Tampil, Ruang Publik Disita
Baca dalam 60 detik
- Dua Lipa dan Callum Turner menggelar pernikahan kedua di Villa Valguarnera, Palermo, dengan hiburan eksklusif dari Sir Elton John dan sejumlah DJ kelas dunia.
- Kemewahan acara berbenturan dengan protes warga setempat yang menolak privatisasi ruang publik, termasuk penutupan alun-alun dan pembatasan akses bagi penduduk.
- Insiden ini menyoroti ketegangan antara pariwisata kelas atas dan hak masyarakat urban, relevan bagi kota-kota di Indonesia yang menghadapi gentrifikasi serupa.

Penyanyi pop dunia Dua Lipa resmi melepas masa lajang untuk kedua kalinya dengan aktor Callum Turner dalam pesta mewah di Sisilia, Italia, yang justru memicu gelombang protes dari warga setempat. Dalam momen yang disebut sangat emosional, sahabat dekat Lipa, Sir Elton John, terbang dengan jet pribadi untuk membawakan lagu klasik "Your Song" di hadapan para tamu undangan.
Pasangan ini sebelumnya telah melangsungkan akad nikah sederhana di Marylebone Town Hall, London, pada 31 Mei 2026. Mereka kemudian terbang ke Italia untuk perayaan tiga hari yang berpuncak di Villa Valguarnera, Bagheria, pada 6 Juni. Selain Elton John, deretan DJ papan atas seperti Carl Cox, Martin Garrix, David Guetta, dan Peggy Gou turut memeriahkan acara. Lipa sendiri tampil memukau dengan gaun bertabur berlian rancangan Donatella Versace, yang juga hadir sebagai tamu.
Namun, di balik gemerlap pesta, ketegangan dengan warga Palermo justru mencuat. Pemerintah setempat menutup dua alun-alun kota dan memberlakukan zona larangan drone, sementara warga yang tinggal di sekitar lokasi diharuskan menandatangani perjanjian non-disclosure. Sebagai bentuk perlawanan, sekelompok aktivis anti-pariwisata memasang poster bertuliskan "Palermo is not for rent" dan "Our square is not your living room". Bahkan, sebuah kolom marmer di Piazza Croce dei Vespi dirusak dengan grafiti bernada ancaman.
Kekesalan warga semakin menjadi setelah pihak penyelenggara dilaporkan membayar kompensasi sebesar ยฃ5.000 kepada penghuni apartemen yang terdampak parkir tambahan. Seorang sumber menyebutkan, "Ini tidak sesuai dengan vibe kisah cinta idilis yang ingin dibangun Dua." Aksi protes juga menyebar secara daring, dengan grup anti-turisme mengajak warga menggantung poster "selamat datang" versi sarkastik dari balkon masing-masing.
Konteks Indonesia: Fenomena serupa mulai terlihat di Bali dan Yogyakarta, di mana penyelenggaraan acara privat oleh selebritas atau perusahaan besar kerap membatasi akses warga ke ruang publik. Misalnya, penutupan jalan di Ubud untuk syuting film atau pesta pernikahan ekspatriat. Kasus Dua Lipa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata kelas atas harus diimbangi dengan penghormatan terhadap hak masyarakat lokal. Tanpa dialog yang setara, resistensi semacam ini berpotensi merusak citra destinasi wisata.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah pemerintah daerah di Indonesia belajar dari insiden Palermo untuk merumuskan regulasi yang lebih ketat terkait privatisasi ruang publik untuk acara komersial? Atau justru sebaliknya, pariwisata eksklusif akan terus menggerus hak warga?



