Rumah Peneleh, Tempat Bung Karno Muda Ditempa Jadi Pemimpin Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Sukarno muda tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya selama masa sekolahnya, menyerap ilmu dan karakter dari sang guru.
- Melalui buku-buku dan diskusi dengan tokoh pergerakan, Sukarno membangun wawasan kebangsaan yang kelak menjadi fondasi perjuangannya.
- Proses pembelajaran langsung dan keteladanan non-verbal yang dialami Sukarno menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606030/original/060199800_1495805023-news-story-kenapa-soekarno-gemar-memakai-jas-bergaya-militer-mK8Z6h2EXP.jpg)
Seorang remaja bernama Sukarno, puluhan tahun sebelum menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, menghabiskan masa-masa formatifnya di sebuah rumah hijau di Jalan Peneleh, Surabaya. Di sanalah ia ditempa oleh HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang tidak hanya memberinya tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk membentuk cara berpikir dan cita-cita kebangsaan.
Bagi Sukarno muda, Tjokroaminoto bukan sekadar guru yang mentransfer pengetahuan. Dalam autobiografinya yang disusun Cindy Adams, Sukarno menulis, "Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak." Keteladanan itu menjadi pijakan awal bagi seorang anak muda yang kelak memimpin revolusi Indonesia.
Di rumah Peneleh, Sukarno mendapatkan akses ke perpustakaan pribadi Tjokroaminoto. Ia larut dalam bacaan para pemikir dunia, dari Thomas Jefferson hingga Karl Marx. Dalam benaknya, ia berdialog dengan tokoh-tokoh besar seperti George Washington, Abraham Lincoln, dan Jean-Jacques Rousseau. "Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson," kenang Sukarno. Kegiatan membaca itu bukan sekadar hobi, melainkan proses perenungan yang membentuk kesadaran kritisnya.
Tak hanya buku, rumah Tjokroaminoto juga menjadi tempat berkumpul para aktivis pergerakan dari berbagai daerah. Sukarno muda memilih duduk mendengarkan perdebatan mereka, alih-alih bermain sepak bola seperti teman-temannya. Suasana makan malam menjadi momen paling berharga, di mana ia bisa menyela dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. Suatu ketika, ia bertanya tentang jumlah kekayaan yang diambil Belanda dari Indonesia. Tjokroaminoto menjawab, "De Vereenigde Oost-Indische Compagnie menyedot—atau mencuri—kira-kira 1.800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun." Jawaban itu membuka matanya tentang ketidakadilan kolonial.
Dari perenungan dan diskusi itu, tumbuh kesadaran baru. Kekaguman pada tokoh dunia berubah menjadi kecintaan mendalam pada tanah air. Sukarno mulai merangkai gagasan-gagasan yang kelak ia tuangkan dalam pidato-pidato berapi-api. Ia sering berlatih pidato di kamar sempitnya, berdiri di atas meja, seolah berbicara di hadapan ribuan orang. Tetangganya menganggapnya aneh, tetapi baginya itu adalah latihan untuk "menyelamatkan dunia".
Sejarawan Adrian Perkasa dari Universitas Airlangga menilai hubungan guru-murid antara Tjokroaminoto dan Sukarno mengandung pelajaran berharga bagi generasi muda masa kini. "Sukarno muda mempelajari secara detail apa yang diajarkan Pak Tjokro secara non-verbal: bagaimana memahami, melihat, kemudian meniru gaya pidato dan pemikirannya," ujar Adrian. Ia menekankan bahwa proses pembelajaran seperti itu tidak bisa digantikan oleh media sosial semata. "Keteladanan non-verbal hanya bisa dipelajari jika ada kontak langsung dan konsistensi fisik," tambahnya.
Rumah Peneleh kini menjadi situs sejarah yang mengingatkan bahwa pemimpin besar tidak lahir begitu saja. Mereka ditempa melalui proses panjang, interaksi langsung dengan tokoh, dan kegigihan dalam menimba ilmu. Pertanyaannya, apakah generasi muda Indonesia saat ini masih memiliki ruang dan kesempatan serupa untuk membentuk karakter dan wawasan kebangsaan?