Vincenzo Italiano Resmi Latih Besiktas, Gaji Rp100 Miliar Setara Pelatih Top Eropa
Baca dalam 60 detik
- Vincenzo Italiano diperkenalkan sebagai pelatih Besiktas dengan kontrak dua tahun senilai 6 juta euro per musim, menjadikannya pelatih Italia termahal ketiga di dunia.
- Suporter Besiktas antusias menyambut Italiano yang dijuluki 'Klopp-nya Italia', setelah ia membawa Bologna tampil kompetitif di Serie A.
- Perjalanan karier Italiano naik kelas dari divisi amatir Italia sepuluh tahun lalu, kini menangani klub dengan rata-rata 40.000 penonton per laga.

Vincenzo Italiano resmi diperkenalkan sebagai pelatih kepala Besiktas setelah mendarat di Istanbul menggunakan jet pribadi, menandai babak baru dalam karier pelatih asal Italia yang dijuluki 'Klopp-nya Italia' oleh para pendukung klub Turki tersebut.
Kontrak dua tahun senilai 6 juta euro per musim—setara lebih dari Rp100 miliar—plus bonus membuat Italiano menjadi pelatih Italia dengan bayaran tertinggi ketiga di dunia, hanya kalah dari Carlo Ancelotti (Real Madrid) dan Simone Inzaghi (Inter Milan). Gajinya di Besiktas dua kali lipat dari yang ia terima saat menangani Bologna.
Reaksi di media sosial Besiktas, khususnya Instagram, menunjukkan antusiasme tinggi. Para suporter menyambut Italiano sebagai sosok yang mampu mengembalikan kejayaan klub yang musim lalu finis 17 poin di belakang juara Liga Turki. Besiktas, yang rata-rata dihadiri 40.000 penonton per laga, menuntut Italiano untuk segera bersaing di papan atas.
Perjalanan Italiano sungguh luar biasa. Sepuluh tahun lalu, ia masih melatih di divisi amatir Italia bersama Vigontina San Paolo dan Arzignano. Kini ia menangani salah satu dari tiga klub terbesar Turki, dengan tugas berat di Liga Europa setelah Besiktas finis keempat musim lalu. Ia juga akan merasakan atmosfer derbi Istanbul melawan Galatasaray dan Fenerbahce untuk pertama kalinya.
Italiano diperkirakan akan membawa sebagian besar staf kepelatihannya dari Bologna, termasuk asisten lama Daniel Niccolini. Salah satu tantangan yang diakuinya adalah kemampuan berbahasa Inggris yang perlu ditingkatkan untuk komunikasi di level Eropa. Koneksi Bologna-Istanbul juga menarik: Ciro Immobile melakukan perjalanan sebaliknya setahun lalu, sementara pengganti Italiano di Bologna, Domenico Tedesco, datang dari Turki.
Bagi pembaca di Indonesia, pergerakan pelatih seperti Italiano menunjukkan betapa kompetitifnya pasar kepelatihan global. Klub-klub Turki kini berani mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan pelatih top Eropa, mirip dengan tren di Liga Indonesia yang mulai mendatangkan pelatih asing berkualitas. Jika Italiano sukses, ia bisa menjadi contoh bagaimana pelatih dari liga menengah Eropa bisa bersaing di panggung yang lebih besar.
Pertanyaan besarnya: mampukah Italiano mengulang kesuksesan seperti yang dilakukan Ancelotti atau Inzaghi di level klub? Atau akankah tekanan tinggi di Besiktas justru menjadi batu sandungan? Musim depan akan menjadi jawabannya.



