Sari Ilmuwan Wanita India yang Bawa Mangalyaan ke Mars Kini Dipajang di Museum Smithsonian
Baca dalam 60 detik
- Sari merah-biru yang dikenakan Nandini Harinath saat misi kritis Mangalyaan dipamerkan di galeri Futures in Space Smithsonian, berdampingan dengan baju Sally Ride.
- Kurator Matt Shindell menyebut sari itu simbol kebanggaan nasional India dan inspirasi bagi perempuan di bidang sains, menjadi koleksi pertama dari India untuk misi antarplanet.
- Kehadiran artefak ini mengundang pengunjung merenungkan pertanyaan mendasar tentang eksplorasi ruang angkasa: siapa yang berangkat, mengapa, dan apa yang akan dilakukan di sana.

Sehelai sari sutra merah dan biru yang dikenakan Nandini Harinath, deputi direktur operasi misi Mars perdana India, kini menjadi koleksi kebanggaan Museum Nasional Udara dan Luar Angkasa Smithsonian di Washington. Pakaian tradisional itu dipilih Harinath pada 1 Desember 2013, hari yang ia sebut sebagai momen paling krusial dalam kariernya—saat ia dan tim ilmuwan Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO) di ruang kendali harus memutuskan arah wahana Mangalyaan menuju orbit Mars.
"Itu adalah momen do-or-die, operasi paling kritis dalam misi ini. Keberhasilan misi bergantung pada apa yang kami lakukan hari itu," kata Harinath dalam wawancara 2016. Mangalyaan akhirnya berhasil memasuki orbit Mars pada 24 September 2014, menjadikan India negara keempat—setelah AS, Rusia, dan Uni Eropa—yang mencapai prestasi tersebut. Keberhasilan itu juga memicu viralnya foto para perempuan bersari di ISRO yang merayakan, menepis stereotip bahwa ilmu roket di India hanya milik laki-laki.
Kurator ruang angkasa Smithsonian, Matt Shindell, mengaku tertarik dengan gambar tersebut dan menghubungi Harinath pada 2020 untuk mendiskusikan benda apa yang bisa mewakili misi Mars India. "Saya bertanya benda apa yang bersedia ia lepaskan. Kami sepakat pada sari yang ia kenakan saat Mangalyaan meninggalkan orbit Bumi," ujar Shindell. Setelah sari dan blus biru yang cocok tiba, konservator tekstil Beth Knight bahkan menonton video YouTube untuk belajar melilitkan sari pada manekin.
Shindell menambahkan bahwa sari itu memiliki "kemiripan keluarga" dengan pakaian lain dalam koleksi yang dikenakan saat misi penting di pusat kendali, seperti rompi Gene Kranz—kepala kendali penerbangan NASA yang memandu kru Apollo 13 kembali dengan selamat pada 1970. Sari Harinath kini dipajang di galeri "Futures in Space", tepat di samping kaos biru Sally Ride yang dikenakan saat misi pesawat ulang-alik 1983, ketika ia menjadi perempuan Amerika pertama di luar angkasa. Galeri ini juga menampilkan mainan, permainan, dan poster film untuk mengajak pengunjung merenungkan masa depan eksplorasi ruang angkasa.
Menurut Shindell, sari Harinath berbicara tentang dua motivasi eksplorasi ruang angkasa: kebanggaan nasional India atas program luar angkasanya yang sukses, dan kisah pribadi yang menginspirasi lebih banyak perempuan untuk berkarier di bidang sains. "Saya sangat gembira pengunjung melihat sari ini dan ingin tahu lebih banyak. Ini tambahan yang fantastis bagi koleksi kami," katanya. Galeri ini juga dilengkapi layar sentuh interaktif yang memungkinkan pengunjung menggali lebih dalam tentang setiap artefak.
Bagi Indonesia, pencapaian ISRO menjadi pengingat bahwa negara berkembang pun bisa bersaing di kancah antariksa. Dengan program luar angkasa yang masih dalam tahap awal, Indonesia dapat belajar dari strategi India yang mengedepankan misi berbiaya rendah namun berdampak tinggi. Kehadiran sari Harinath di Smithsonian juga menunjukkan bahwa simbol budaya lokal bisa menjadi duta global sains dan teknologi, sebuah pelajaran berharga bagi upaya diplomasi publik Indonesia di bidang riset antariksa.
Ke depan, pertanyaan yang diajukan galeri "Futures in Space"—siapa yang memutuskan siapa yang pergi ke luar angkasa, mengapa kita pergi, dan apa yang akan kita lakukan di sana—semakin relevan seiring dengan meningkatnya partisipasi negara-negara non-barat dalam eksplorasi ruang angkasa. Apakah Indonesia akan menjadi salah satu yang menjawab panggilan itu?


