Bobotoh Kolektor Pamerkan 100 Jersey Bersejarah Persib, dari Lawan AC Milan hingga Hattrick Juara
Baca dalam 60 detik
- Fahri Abdul Rasyid menggelar pameran 100 jersey Persib di Bandung, menampilkan koleksi dari era 1990-an hingga kostum juara tiga musim beruntun.
- Jersey lawan AC Milan 1994 dan milik Ahmad Jufriyanto saat final ISL 2014 menjadi sorotan, merekam momen bersejarah Maung Bandung.
- Pameran ini menjadi ruang nostalgia bagi Bobotoh sekaligus arsip perjalanan klub yang kini bertabur lima bintang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7771947/original/047565800_1780583462-1000438013.jpg)
Keberhasilan Persib Bandung menyabet gelar juara Liga Indonesia tiga musim beruntun dan menyematkan lima bintang di dada tak hanya dirayakan dengan konvoi atau pesta di stadion. Seorang Bobotoh bernama Fahri Abdul Rasyid memilih cara berbeda: memamerkan hampir 100 jersey bersejarah yang ia kumpulkan selama lebih dari dua dekade, dari kostum lawan AC Milan pada 1994 hingga seragam juara musim terbaru.
Pameran yang digelar di kawasan Cafe Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Bandung, sejak 24 Mei hingga 24 Juni 2026 ini merupakan kolaborasi dengan Visual Studio. Fahri sengaja menghadirkan koleksi pribadinya sebagai bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang Maung Bandung. “Pameran ini dalam rangka menyambut Persib yang kini memiliki lima bintang dan menjadi juara tiga kali berturut-turut,” ujarnya saat ditemui Kamis (4/6/2026).
Koleksi yang dipajang mencakup jersey dari era 1990-an hingga kostum musim juara. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah jersey pertandingan Persib saat menghadapi AC Milan pada 1994. Menurut Fahri, jersey tersebut menjadi salah satu barang langka karena minimnya identitas klub yang membedakannya dengan tim lain di era yang sama. “Yang paling sulit dicari itu jersey tahun 1994, liga pertama. Tidak ada logo Persib yang jelas,” katanya.
Fahri mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi kolektor. Semua bermula pada 2004 ketika ia membeli jersey Persib produksi Vilour. Dari satu jersey itu, koleksinya terus bertambah hingga kini mencapai hampir 100 buah. “Baru belakangan saya tahu ternyata ini disebut kolektor,” selorohnya. Namun, mengumpulkan jersey Persib bukan perkara mudah, terutama untuk koleksi awal 2000-an saat sistem penjualan resmi klub belum tertata. Sebagian besar didapat dari Bobotoh senior, mantan pemain, atau hasil perburuan panjang di stadion.
Bagi Fahri, setiap jersey memiliki nilai sejarah yang tak terukur. Namun, ada satu yang paling istimewa: jersey final ISL 2014 milik Ahmad Jufriyanto. Jersey itu menjadi simbol berakhirnya penantian panjang Persib yang hampir 20 tahun tanpa gelar nasional. “Ini yang paling memorable buat saya. Persib waktu itu hampir 20 tahun tidak juara, lalu akhirnya juara pada 2014,” cerita Fahri. Ia mendapatkan jersey tersebut dari seorang Bobotoh di Palembang.
Meski koleksinya sudah hampir lengkap, Fahri masih memburu satu target: jersey Persib pada Liga Indonesia pertama tahun 1994. Menurutnya, jersey itu sangat langka karena minim identitas klub, sehingga sulit dibedakan dengan jersey tim lain yang sama-sama berwarna biru. “Kalau saya, jersey harus jelas asal-usulnya. Mau harganya mahal tidak masalah, yang penting sejarah dan keasliannya jelas,” tegasnya.
Melalui pameran ini, Fahri berharap Bobotoh bisa bernostalgia dan memahami bahwa setiap jersey menyimpan cerita perjalanan Maung Bandung dari generasi ke generasi. “Di rumah disimpan dan dijaga dengan baik karena menurut saya ini juga bagian dari arsip perjalanan Persib,” tuturnya bangga. Pertanyaannya, akankah koleksi ini terus bertambah seiring gemilangnya prestasi Persib di masa depan?



