Yen Terjun Bebas Mendekati 160 per Dolar, Jepang Siapkan Intervensi Besar-besaran
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Jepang mengancam akan mengambil 'tindakan tegas' untuk menstabilkan yen yang terus melemah mendekati level psikologis 160 per dolar AS.
- Cadangan devisa Jepang anjlok hingga US$77,1 miliar pada Mei 2026, penurunan terbesar dalam sejarah, akibat operasi pembelian yen senilai US$73 miliar.
- Penjualan besar-besaran obligasi AS untuk mendanai intervensi berpotensi memicu ketegangan dengan Washington dan membatasi ruang gerak Tokyo.
Pemerintah Jepang kembali mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka siap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing, setelah yen terpuruk mendekati level 160 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak akhir April. Menteri Keuangan Satsuki Katayama, dalam pernyataan di hadapan parlemen Jumat (5/6), menegaskan bahwa Tokyo memiliki hak untuk melakukan intervensi terhadap volatilitas berlebihan yang didorong oleh aksi spekulatif.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pelemahan yen yang terus berlanjut dapat menggerus daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya impor energi serta bahan baku. Data terbaru dari Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan cadangan devisa negara itu ambles sebesar US$77,1 miliar atau 5,6 persen dalam sebulan, menjadi US$1,306 triliun. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam sejarah, mencerminkan besarnya biaya yang harus dibayar Tokyo untuk mempertahankan mata uangnya.
Sebagian besar penurunan cadangan berasal dari penjualan surat berharga asing, yang menyusut US$75,6 miliar menjadi US$931,7 miliar. Para analis menduga bahwa Jepang telah menjual obligasi Treasury AS untuk mendanai operasi pembelian yen senilai US$73 miliar yang diluncurkan pada akhir April lalu. Tsuyoshi Ueno, ekonom senior di NLI Research Institute, menilai langkah tersebut merupakan sinyal bahwa Tokyo bersedia mengorbankan aset likuidnya demi menopang yen.
Meskipun demikian, pejabat Kementerian Keuangan Jepang enggan mengonfirmasi apakah obligasi AS benar-benar dijual untuk intervensi. Mereka beralasan bahwa kenaikan imbal hasil juga turut menekan nilai pasar kepemilikan obligasi. Namun, langkah ini berpotensi menimbulkan ketegangan dengan Washington. Para analis memperingatkan bahwa gejolak di pasar obligasi global dapat membuat Amerika Serikat kurang toleran terhadap aksi pembelian yen dalam skala besar jika harus disertai penjualan Treasury secara masif.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sejumlah pihak mengusulkan alternatif. Yuji Saito, penasihat eksekutif di SBI FX Trade, menyarankan Jepang memanfaatkan fasilitas repo FIMA (Foreign and International Monetary Authorities) milik Federal Reserve. Fasilitas yang diperkenalkan pada Maret 2020 ini memungkinkan bank sentral asing memperoleh likuiditas dolar tanpa harus menjual Treasury secara langsung. "Tujuannya adalah menstabilkan pasar obligasi sambil mengirimkan sinyal peringatan ke pasar valuta asing," ujar Saito.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, dalam kesempatan yang sama, menekankan bahwa cara terbaik untuk mempertahankan nilai yen adalah dengan meningkatkan daya saing global Jepang melalui investasi di sektor-sektor pertumbuhan. Namun, dalam jangka pendek, tekanan terhadap yen diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan kebijakan moneter ketat Bank Sentral AS yang membuat dolar tetap perkasa.
Bagi Indonesia, pelemahan yen yang berkepanjangan dapat berdampak pada arus perdagangan dan investasi. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan fluktuasi nilai tukar yang tajam berpotensi mengganggu stabilitas ekspor-impor serta nilai utang dalam denominasi yen. Pasar keuangan regional pun akan mencermati setiap langkah Tokyo, karena intervensi besar-besaran dapat memicu efek rambatan ke mata uang Asia lainnya.
Pertanyaan besarnya kini: sejauh mana Tokyo bersedia menguras cadangan devisanya untuk mempertahankan yen, dan akankah Washington tetap diam jika penjualan Treasury AS terus berlanjut?



