Stacey Dooley Angkat Isu Tersembunyi Lewat Tiga Dokumenter Baru BBC
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara asal Inggris, Stacey Dooley, akan memandu tiga film dokumenter BBC yang menyoroti kematian tentara wanita, kasus perempuan jatuh dari ketinggian, dan kecanduan ketamin.
- Dokumenter 'Death in the Barracks', 'Fallen Women', dan 'Down the K-Hole' menawarkan perspektif baru atas isu-isu yang kerap terabaikan di Inggris.
- BBC menilai gaya bertutur Dooley yang hangat dan jernih mampu membuka ruang bagi suara-suara yang jarang terdengar.

Pembawa acara dokumenter asal Inggris, Stacey Dooley, kembali dipercaya BBC untuk memandu tiga film baru yang mengupas persoalan sosial yang jarang tersentuh sorotan publik. Dalam proyek terbarunya, Dooley akan menyelami kasus kematian tentara wanita di barak militer, serangkaian insiden perempuan yang tewas setelah jatuh dari ketinggian, serta realitas kecanduan ketamin di pusat rehabilitasi.
Ketiga dokumenter tersebut—Death in the Barracks, Fallen Women, dan Down the K-Hole—direncanakan tayang di BBC Three dan platform iPlayer. Dooley, yang dikenal dengan gaya reportase mendalamnya, menyebut proyek ini sebagai salah satu yang paling menantang dalam kariernya. "Setiap film mengeksplorasi isu sulit yang sering diabaikan, mulai dari kematian perempuan yang menyisakan banyak pertanyaan, hingga dampak penggunaan ketamin yang kian meluas," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Death in the Barracks akan mengikuti jejak investigasi Dooley terhadap kematian Jaysley Beck, seorang prajurit artileri kerajaan yang tewas di barak militer. Sementara itu, Fallen Women menyoroti pola misterius di balik kematian sejumlah perempuan Inggris yang jatuh dari ketinggian, yang kerap tidak mendapatkan perhatian hukum memadai. Adapun Down the K-Hole merekam pengalaman Dooley selama lima bulan di unit rehabilitasi di Stockport, menyaksikan perjuangan mantan pecandu ketamin melawan kecanduan mereka.
Emma Loach, kepala komisioning sementara dokumenter BBC, memuji kemampuan Dooley dalam menyampaikan kisah rumit dengan empati. "Ia memiliki kemampuan langka untuk terhubung dengan narasumber dan menceritakan kisah-kisah yang tidak nyaman dengan kehangatan, kejelasan, dan kemanusiaan sejati," kata Loach. Ia menambahkan bahwa ketiga film ini mencerminkan tradisi bercerita terbaik Inggris, dengan memberi ruang bagi pengalaman yang jarang didengar.
Bagi penonton di Indonesia, dokumenter ini menawarkan cermin atas isu serupa yang kerap muncul di dalam negeri. Kasus kematian di barak militer, misalnya, mengingatkan pada sejumlah insiden kekerasan dan pelanggaran HAM di lingkungan TNI yang masih menjadi sorotan. Sementara itu, tren penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti ketamin juga menjadi perhatian di Indonesia, meskipun data resmi masih terbatas. Dokumenter semacam ini bisa menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan aktivis untuk mendorong transparansi dan perlindungan korban.
Dooley sendiri mengaku sadar akan tanggung jawab besar yang diembannya. "Akses yang kami dapatkan untuk bertemu mereka yang terdampak, mendengar cerita mereka, dan mencoba memahami gambaran yang lebih luas adalah tanggung jawab yang tidak saya anggap enteng," katanya. Ia berharap ketiga film ini dapat memicu percakapan yang bermakna di masyarakat.
Ke depan, kesuksesan dokumenter ini akan diukur tidak hanya dari rating, tetapi juga dari dampaknya terhadap kebijakan publik dan kesadaran sosial. Akankah BBC dan lembaga penyiaran lain terus mendukung jurnalisme investigatif yang berani menyentuh isu-isu tabu? Ataukah tekanan komersial akan membatasi ruang bagi cerita-cerita semacam ini? Jawabannya akan menentukan masa depan dokumenter sosial di era streaming.



