Liverpool Tunjuk Andoni Iraola: Arsitek Kejutan Bournemouth Siap Uji Nyali di Anfield
Baca dalam 60 detik
- Andoni Iraola resmi menukangi Liverpool dengan kontrak dua tahun, menggantikan Arne Slot yang dipecat setelah musim mengecewakan.
- Pelatih asal Spanyol itu sukses membawa Bournemouth finis keenam dan lolos ke Europa League, meski kehilangan bintang utamanya di tengah musim.
- Kedatangan Iraola diharapkan mengembalikan gaya agresif dan pressing tinggi yang diinginkan manajemen Liverpool, serupa dengan racikannya di Bournemouth.

Liverpool resmi menunjuk Andoni Iraola sebagai pelatih kepala baru dengan kontrak dua tahun, menyusul pemecatan Arne Slot yang hanya bertahan semusim setelah membawa The Reds juara Premier League. Keputusan ini diambil oleh Michael Edwards dan Richard Hughes, yang menilai tim membutuhkan perubahan gaya bermain yang lebih agresif dan progresif.
Iraola, 43 tahun, datang dengan reputasi sebagai pelatih yang mampu mengangkat performa tim di luar ekspektasi. Di Bournemouth, ia membawa The Cherries finis di posisi keenam—hanya terpaut satu peringkat dan tiga poin dari Liverpool—serta mengamankan tiket ke Europa League. Prestasi itu diraih meskipun Bournemouth kehilangan pemain kuncinya, Antoine Semenyo, di bursa Januari.
Keputusan Liverpool memecat Slot bukan tanpa alasan. Meski sukses merebut gelar liga musim lalu, performa tim musim ini anjlok drastis. Liverpool finis dengan 60 poin—terendah sejak 2015/16—dan tertinggal 25 poin dari Arsenal sebagai juara. Manajemen menilai pendekatan Slot sudah tidak sesuai dengan kebutuhan klub yang ingin kembali ke identitas sepak bola menekan dan penuh intensitas.
Iraola bukan nama asing di dunia kepelatihan. Sebelum sukses di Bournemouth, ia pernah menukangi AEK Larnaca (Siprus), CD Mirandes, dan Rayo Vallecano. Di setiap klub, ia selalu menorehkan pencapaian di luar dugaan: membawa Mirandes ke semifinal Copa del Rey dengan mengalahkan tiga tim La Liga, serta promosi Rayo Vallecano ke La Liga via play-off meski bermain dengan 10 orang di leg kedua.
Hubungan Iraola dengan Liverpool sudah terjalin lama. Ia pernah menjadi lawan yang menyulitkan The Reds, termasuk saat Bournemouth hampir mencuri poin di Anfield pada laga pembuka musim lalu sebelum kalah 2-3 akibat gol telat Federico Chiesa dan Mohamed Salah. "Saya ingat stadion meledak saat Chiesa mencetak gol. Kini saya ingin merasakan euforia itu dari sisi yang berbeda," ujar Iraola dalam konferensi pers perkenalannya.
Pelatih asal Basque itu juga memiliki ikatan personal dengan dua pelatih top Premier League lainnya: Mikel Arteta (Arsenal) dan Xabi Alonso (Chelsea). Ketiganya bermain bersama di klub amatir Antiguoko saat kecil, bahkan sering bermain sepak bola di pantai saat air laut surut. "Sungguh luar biasa, 40 tahun kemudian kami semua menjadi manajer di Premier League," kenang Iraola.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Iraola ke Liverpool menarik untuk diikuti. Gaya sepak bola menekan dan transisi cepat yang ia terapkan di Bournemouth—dipuji Pep Guardiola sebagai "modern football"—berpotensi menghadirkan tontonan atraktif. Apalagi Liverpool memiliki skuad bertabur bintang seperti Mohamed Salah, Alexander Isak, dan Florian Wirtz yang cocok dengan filosofi tersebut.
Namun, tantangan terbesar Iraola adalah membuktikan diri di klub sebesar Liverpool. Sejarah mencatat banyak pelatih yang sukses di klub kecil justru gagal saat melangkah ke klub raksasa. Pertanyaannya, apakah Iraola mampu mempertahankan konsistensi dan membawa Liverpool kembali ke papan atas Premier League serta bersaing di Liga Champions? Anfield akan menjadi saksi jawabannya.



