Menkeu Korsel Siap Intervensi Pasar Keuangan, Won Terus Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Korea Selatan menggelar rapat darurat untuk merespons gejolak nilai tukar won yang menyentuh level terlemah dalam dua bulan.
- Menteri Keuangan Koo Yun-cheol berjanji mengambil langkah tegas terhadap perilaku 'ikut-ikutan' di pasar valas dan volatilitas berlebih di pasar saham serta obligasi.
- Langkah ini menjadi sinyal waspada bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menghadapi tekanan serupa akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
Pemerintah Korea Selatan mengumumkan kesiapannya untuk melakukan intervensi di pasar keuangan domestik guna meredam gejolak yang kian meningkat. Langkah ini diambil setelah nilai tukar won terhadap dolar AS melemah ke titik terendah dalam lebih dari dua bulan, memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi negara tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (4/6), Kementerian Keuangan Korea Selatan menyebutkan bahwa Menteri Keuangan merangkap Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi, Koo Yun-cheol, telah memimpin rapat darurat bersama para pembuat kebijakan ekonomi utama. Pertemuan itu membahas kondisi terkini pasar saham, obligasi, dan valuta asing. Koo menekankan bahwa pemerintah akan segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk merespons perilaku 'ikut-ikutan' yang berlebihan di pasar valas, yang dinilai memperburuk pelemahan won.
Pernyataan tersebut sempat meredam tekanan terhadap won. Mata uang Korea Selatan itu memangkas kerugiannya dan diperdagangkan di level 1.523,6 per dolar AS pada pukul 00.20 GMT, turun 0,3 persen. Sebelumnya, won sempat menyentuh 1.530,8 per dolar AS, level terlemah sejak 31 Maret lalu. Meski demikian, tekanan terhadap won masih tinggi di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global.
Selain valas, Menteri Koo juga berjanji untuk secara preemptif mengelola risiko di pasar saham domestik dan merespons volatilitas berlebih di pasar obligasi. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah Korea Selatan dalam menjaga stabilitas pasar keuangan secara menyeluruh. Pasar saham Korea Selatan sendiri telah mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, sejalan dengan aksi jual di pasar global akibat kekhawatiran suku bunga tinggi dan perlambatan ekonomi.
Bagi Indonesia, langkah Bank of Korea dan pemerintah Korea Selatan ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan menghadapi gejolak pasar keuangan. Indonesia juga menghadapi tekanan serupa, dengan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi dan imbal hasil obligasi yang meningkat. Bank Indonesia telah beberapa kali melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah, namun tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan kenaikan suku bunga acuan global masih menjadi tantangan utama.
Ke depannya, efektivitas intervensi pemerintah Korea Selatan akan bergantung pada konsistensi kebijakan dan respons pasar global. Jika tekanan dolar AS berlanjut, langkah-langkah jangka pendek mungkin hanya memberikan efek sementara. Pertanyaan yang muncul: apakah negara-negara Asia, termasuk Indonesia, mampu bertahan dari gelombang penguatan dolar AS tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi domestik?



