Rupiah Tembus Rp17.940, Menkeu Sebut Pasar Dibayangi Isu Tak Bertanggung Jawab
Baca dalam 60 detik
- Rupiah anjlok ke Rp17.940 per dolar AS, nyaris menembus level psikologis Rp18.000 untuk pertama kalinya.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah mengeluarkan instruksi stress test perbankan di level Rp18.000, menyebut isu tersebut sebagai rumor tak berdasar.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen negatif dan spekulasi di pasar, sementara pemerintah mengklaim fokus menjaga fundamental ekonomi.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke titik terendah sepanjang sejarah, ditutup di level Rp17.940 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Posisi ini tidak hanya menembus level psikologis Rp17.900, tetapi juga makin mendekati ambang batas Rp18.000 yang selama ini dianggap sebagai garis merah bagi stabilitas moneter.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai tekanan yang terus membayangi mata uang Garuda. Dalam pernyataannya di kompleks parlemen, ia mengaitkan pelemahan tersebut dengan maraknya rumor yang beredar di pasar keuangan. Salah satu isu yang disebutnya adalah tuduhan bahwa ia memerintahkan perbankan untuk melakukan uji ketahanan (stress test) dengan asumsi dolar menembus Rp18.000. โPadahal saya tidak pernah mengeluarkan isu seperti itu,โ tegasnya.
Menurut Purbaya, banyak informasi simpang siur yang membuat sentimen terhadap rupiah menjadi โagak-agakโ atau tidak menentu. Ia tidak merinci isu-isu mana yang paling berpengaruh, namun mengindikasikan bahwa spekulasi semacam itu justru memperburuk persepsi investor. Di tengah gejolak ini, ia menegaskan bahwa tugas utamanya adalah menjaga fondasi ekonomi agar tetap kokoh dan pertumbuhan bisa berjalan cepat.
Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah tekanan eksternal yang kuat, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian arah suku bunga global. Namun, faktor domestik juga ikut berperan. Para analis menilai bahwa kurangnya kredibilitas komunikasi kebijakan dapat memperparah gejolak. โPernyataan pejabat yang kontradiktif atau munculnya rumor tanpa klarifikasi cepat bisa membuat pasar semakin gamang,โ ujar seorang ekonom dari lembaga riset makroekonomi di Jakarta.
Bagi pelaku pasar Indonesia, situasi ini membawa implikasi langsung. Impor barang dan bahan baku menjadi lebih mahal, sementara utang luar negeri swasta yang belum di-hedge berpotensi membengkak. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dolar mereka lebih bernilai dalam rupiah. Namun, jika pelemahan berlanjut hingga menembus Rp18.000, Bank Indonesia kemungkinan akan melakukan intervensi lebih agresif, baik melalui operasi pasar terbuka maupun pengetatan likuiditas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah mampu meredam rumor dan mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan inflasi yang masih terkendali dan cadangan devisa yang relatif memadai, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya tidak seburuk yang digambarkan oleh pergerakan rupiah. Namun, tanpa komunikasi yang efektif dan langkah konkret untuk mengatasi spekulasi, tekanan terhadap rupiah bisa terus berlanjut. Akankah Rp18.000 menjadi kenyataan dalam waktu dekat? Ataukah intervensi kebijakan akan mampu menahan laju pelemahan? Jawabannya masih bergantung pada bagaimana pemerintah dan otoritas moneter bermain di tengah pusaran isu dan sentimen global.



