Purbaya Bantah Narasi Krisis, Tapi Investor Asing Mulai Angkat Kaki dari RI
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran krisis ala 1998 di tengah seruan 'Sell Indonesia' dan anjloknya IHSG 36%.
- Kepercayaan investor global tergerus oleh kebijakan populis Presiden Prabowo, termasuk intervensi ekspor dan program makan siang gratis.
- Hengkangnya Sri Mulyani pada 2025 dinilai sebagai titik balik yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara menanggapi gelombang seruan 'Sell Indonesia' yang melanda pasar keuangan Tanah Air. Di tengah pelemahan rupiah dan amblesnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 36% dari puncaknya, ia menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih solid dan tidak akan terjerumus ke jurang krisis seperti 1998. Namun, pernyataan optimistis itu kontras dengan kenyataan di lapangan: investor global mulai hengkang, dan Indonesia resmi menyandang predikat indeks saham berkinerja terburuk di dunia sepanjang 2026.
Dalam konferensi pers APBNKita yang dipercepat, Sabtu (6/6/2026), Purbaya mengakui adanya sentimen negatif yang mengganggu nilai tukar rupiah. "Hanya ada sedikit negatif yang mengganggu sedikit terhadap tukar. Tapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, departemen keuangan, dengan bank sentral," ujarnya. Ia menilai seruan 'Sell Indonesia' berasal dari pihak yang tidak memahami fundamental ekonomi RI secara utuh. "Fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat," tegasnya.
Namun, data Bloomberg menunjukkan cerita berbeda. Hanya berselang lima bulan setelah menyentuh rekor tertinggi, IHSG kini terpuruk dan menempati posisi paling bawah di antara 90 indeks global. Titik balik ini terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menjabat pada Oktober 2024 dan meluncurkan serangkaian kebijakan populis: program makan siang gratis nasional, perluasan peran negara dalam perekonomian, dan pengambilalihan langsung kendali ekspor komoditas utama untuk menekan penghindaran pajak. Langkah terakhir itu memicu aksi jual masif saham-saham sektor eksportir.
Bagi investor global, kepergian Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan pada 2025 menjadi momen krusial. Selama ini, Sri Mulyani dipandang sebagai penjamin disiplin fiskal yang berhasil mengantarkan Indonesia meraih peringkat utang layak investasi dan menarik modal asing jangka panjang. "Perdagangan besar di Asia saat ini adalah 'jual Indonesia'," ujar George Boubouras, Head of Research di hedge fund K2 Asset Management, seperti dikutip Straits Times. Boubouras, yang telah berinvestasi di Indonesia selama puluhan tahun, mengaku telah menarik seluruh posisinya sejak 2024. "Saya memiliki nol eksposur ke Indonesia. Saya tidak akan memberikan mereka kesempatan," katanya.
Konteks Indonesia: bagi investor domestik, situasi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan asing sangat rentan terhadap perubahan kebijakan. Pasar modal Indonesia yang dulu menjadi primadona emerging market kini terancam kehilangan daya tarik. Jika pemerintah tidak segera memulihkan kredibilitas fiskal, bukan tidak mungkin aksi jual berlanjut dan rupiah semakin tertekan. Pertanyaannya, mampukah koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia membalikkan sentimen negatif, atau justru semakin banyak investor yang mengikuti jejak Boubouras?



