IHSG Bangkit 1,11%: BREN dan AMMN Pimpin Penguatan, Asing Masih Cenderung Jual
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,11% ke 6.195,43 pada Selasa (2/6) didorong saham big cap seperti BREN dan AMMN.
- Investor asing masih mencatat net sell Rp1,37 triliun di pasar reguler, menandakan optimisme belum sepenuhnya pulih.
- Emiten seperti GOLF, EMAS, dan AXIO mengumumkan ekspansi dan dividen, menjadi katalis potensial bagi sektor masing-masing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan tren negatif dengan menguat 1,11% ke level 6.195,43 pada perdagangan Selasa (2/6/2026), ditopang oleh lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar yang memberikan dorongan signifikan terhadap indeks.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi kontributor penguatan terbesar dengan melesat 24,85%, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 17,88%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang bertambah 3,05%. Di sisi lain, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melemah 2,64% dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang turun 2,55% menjadi pemberat laju indeks.
Meski IHSG menunjukkan rebound, arus modal asing masih menunjukkan kecenderungan keluar. Data bursa mencatat investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp1,37 triliun di pasar reguler dan Rp1,39 triliun di seluruh pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa pemulihan kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia belum sepenuhnya solid, meskipun sentimen eksternal cukup mendukung.
Dari sisi sektoral, hanya empat sektor yang berakhir di zona hijau. Sektor energi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,61%, sementara sektor transportasi menjadi yang terpuruk dengan koreksi 3,33%. Sentimen positif juga datang dari Wall Street di mana Dow Jones naik 0,45% ke 51.307, S&P 500 bertambah 0,13% ke 7.609, dan Nasdaq hampir flat di 27.093.
Pasar juga mencermati penyesuaian indeks FTSE Russell yang akan datang. Emiten seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Nusantara Infrastructure Tbk (CNMA) kembali masuk dalam indeks FTSE, yang berpotensi menarik minat investor asing. Sementara itu, ETF Indonesia EIDO turun 0,23%, namun MSCI Indonesia menguat 0,74%, menunjukkan divergensi persepsi investor.
Di level korporasi, sejumlah emiten mengumumkan langkah strategis. PT GOLF Tbk menyiapkan belanja modal Rp300 miliar untuk 2026, naik dari Rp202,55 miliar tahun sebelumnya, yang akan difokuskan pada pengembangan kawasan golf di Bali dan Sentul serta proyek The Links Golf Villa Belitung (44 unit vila). Perseroan juga merencanakan Banyan Tree Pecatu Bali Hotel pada kuartal IV-2027 dengan tarif rata-rata Rp1 juta per malam. Saham GOLF saat ini berkonsolidasi di rentang Rp155โRp167.
PT EMAS Tbk memulai program pengeboran dalam (diamond deep drilling) hingga kedalaman 3.600 meter di Tambang Emas Pani. Tambang tersebut memiliki sumber daya mineral 291,5 juta ton dengan kadar emas rata-rata 0,75 gram per ton, setara 7 juta ons emas. Enam titik pengeboran telah disiapkan, dengan satu rig beroperasi dan rig kedua akan menyusul bulan depan untuk mempercepat eksplorasi potensi emas di lapisan lebih dalam.
Sementara itu, PT AXIO Tbk mengumumkan pembagian dividen tunai final Rp4 per saham (total Rp23,36 miliar) untuk tahun buku 2025. Sebelumnya, perseroan telah membagikan dividen interim Rp5 per saham pada November 2025. Total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp9 per saham atau Rp52,56 miliar. Keputusan ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan 31,05% menjadi Rp1,62 triliun dan laba bersih naik 21,68% menjadi Rp67,97 miliar. Cum dividen ditetapkan pada 8 Juni 2026, dengan pembayaran pada 2 Juli 2026.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat tergantung pada konsistensi aliran modal asing dan realisasi ekspansi korporasi. Apakah rebound ini akan berlanjut atau hanya sekadar technical bounce? Investor perlu mencermati data net sell asing dan perkembangan penyesuaian indeks FTSE sebagai indikator kepercayaan pasar.