Nikkei Tembus Rekor Lagi, SoftBank Kalahkan Toyota sebagai Raja Kapitalisasi Pasar Jepang
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei naik 0,91% ke 66.934,33 pada Senin, didorong saham teknologi berat seperti SoftBank Group.
- SoftBank Group menggeser Toyota Motor dari posisi perusahaan publik paling bernilai di Jepang setelah lebih dari 20 tahun.
- Topix justru turun 0,42% karena aksi ambil untung, sementara ketidakpastian kesepakatan AS-Iran membebani sentimen.

Indeks saham unggulan Jepang, Nikkei, kembali menorehkan rekor penutupan tertinggi pada Senin (1/6) di tengah aksi beli saham teknologi berkapitalisasi besar, sementara indeks Topix justru tertekan oleh aksi ambil untung setelah kenaikan tajam sebelumnya.
Nikkei 225 ditutup naik 604,83 poin atau 0,91 persen ke level 66.934,33, setelah sempat menyentuh rekor intraday 67.231,28. Sebaliknya, Topix yang lebih luas turun 16,47 poin atau 0,42 persen ke 3.940,70. Di Prime Market, sektor informasi dan komunikasi serta produk logam menjadi pendorong utama, sementara pertambangan dan peralatan transportasi mencatat penurunan terbesar.
Fenomena paling mencolok adalah keberhasilan SoftBank Group menggeser Toyota Motor sebagai perusahaan publik paling bernilai di Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar. Ini pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade Toyota kehilangan posisi puncak. Analis pasar ekuitas Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shota Sando, menyebut pergeseran ini "simbolis" dari tren pasar saat ini, di mana investor "tidak bisa mengabaikan risiko ketinggalan" pada saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.
Kenaikan Nikkei selama dua hari berturut-turut didorong optimisme ekspansi bisnis AI dan semikonduktor. Namun, di sisi lain, Topix justru bergerak di zona merah karena investor merealisasikan keuntungan setelah reli panjang, ditambah kekhawatiran pasar yang terlalu panas (overheating).
Di pasar valas, dolar AS menguat ke kisaran pertengahan 159 yen di Tokyo, dipicu ketidakpastian progres kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pada pukul 17.00 waktu setempat, dolar diperdagangkan di 159,46-47 yen, naik dari 159,23-33 yen di New York. Euro berada di level 1,1657-1658 dolar AS dan 185,89-93 yen. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik 0,025 poin persentase menjadi 2,680 persen, terdorong kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian kesepakatan Timur Tengah.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Tokyo menjadi sinyal penting. Penguatan yen dan reli saham teknologi Jepang kerap mempengaruhi aliran modal asing ke pasar Asia, termasuk Indonesia. Jika Nikkei terus memanas, dana global bisa beralih ke Jepang, berpotensi menekan bursa domestik. Sebaliknya, jika kekhawatiran overheating memicu koreksi, investor asing mungkin kembali mencari aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang bisa mendorong Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli saham teknologi Jepang masih berkelanjutan, atau justru akan terhenti oleh faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik AS-Iran dan potensi kenaikan suku bunga global. Pasar akan mencermati data inflasi Jepang dan keputusan bank sentral AS dalam beberapa pekan mendatang untuk menentukan arah selanjutnya.


